Mencintai, Tidak Bisa Menunggu

Sebuah judul yang pas rasanya ketika keadaan jauh, tak tampak, dan rindu menyerang saat rasa itu tiba. Kalimat pada judul ini dibuat oleh Mas Iwan Setyawan, dan pertama kali saya membacanya saat meminta tanda tangan beliau di buku keduanya, Ibuk. Rasanya, tiada lagi hal yang pas untuk menyatakan bagaimana kondisi saat ini sekarang.

Janganlah simpan kata cinta dan sayang pada orang tersayang sampai ia meninggal dunia, pun akhirnya terpaksa catat kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mencintai, tidak bisa menunggu :)

***

Note: menikmati kesendirian sambil terus ditemaninya di kepala ini. Tak hanya buat beliau, tetapi juga buat kamu. Sampai jumpa lagi, lama tidak bertatapan.


Review Film 9 Summers 10 Autumns: The Movie

Tabik! Selamat datang film baru dimasa keemasan film Indonesia. Sebuah film brilliant dengan cerita kebangkitan yang dilengkapi dengan rasa motivasi yang indah, membuat gue yang jiwa melankolisnya berteriak, seolah mengisyaratkan kalau film ini sangat menginspirasi sekaligus menyesakkan dada. 9 Summers 10 Autumns.

9 Summers 10 Autums The Movie 4

Seluruh kru dan pemain 9 Summers 10 Autumn memberikan sambutan buat undangan gala premier! Woohoo

Tidaklah gue pantas buat mengkritik teknis sebuah film, karena gue bukanlah ahli perfilman. Tapi untuk urusan alur cerita, bolehlah berdiskusi dengan gue. Apalagi tentang keluarga, ahh keluarga memang indah, seperti yang berada pada film ini. Mas Iwan Setyawan, atau keluarga memanggilnya Bayek, adalah anak seorang supir angkot yang hidup di Batu, Malang. Bayek melanjutkan kuliah di IPB dulu, sebelum akhirnya pergi berlayar menjadi seorang direktur di New York! Tentu tidak semulus dan sesingkat seperti yang saya tuliskan dalam 3 kalimat diatas, karena perjalanan seorang Bayek sangatlah penuh perjuangan.

Ibuk, Bapak, dan keempat orang saudara perempuan dari Bayek. Merekalah yang membuat semuanya ini terlihat indah. Sebuah cerminan keluarga Indonesia yang hangat, tetap memunculkan paradigma lama orang Indonesia: laki-laki cari uang, wanita di dapur. Ya, saya melihatnya secara jelas di film ini. “Bogor gak butuh kamu, keluarga ini yang butuh awakmu!” begitulah kata Bapak kepada Bayek saat memberi tahu ia diterima di Jurusan Statistika, IPB.

Menghidupkan Kehidupan.

Sekali lagi, alur bulak balik yang tidak lempeng sepeti film kebanyakan membuat film ini memiliki nilai yang lebih. Akting pemeran yang seluruhnya perfect, memunculkan kesan yang pas. Adegan-adegan favorit saya seperti saat Bayek berpelukan dengan Ibunda, saat masalah datan bertubi-tubi, semuanya terlihat sulit. Sangat menyentuh! Saya sampai nangis :)

9 Summers 10 Autums The Movie

Ibuk,

Dan juga… Scene bagian pembuktian Teori Central Limit! Wiiiih.. walaupun kemarin nilai mata kuliah Metode Statistika gue A (ceritanya sombong padahal cuma hoki hahaha), gue akui teori ini seperti bahasa alien. Bayek memang jenius! ;) Dan gue rasa, film ini satu-satunya film di Indonesia yang menjabarkan secara jelas penyelesaian soal teori central limit ini. Bener-bener ditulis, jelas banget. Mungkin ketika ujian matematika nanti, gue akan sering-sering nonton film ini, siapa tau soalnya sama.. Hahaha *keplak*

9 Summers 10 Autums The Movie 7

Ini scene paling gila! Sebagai mahasiswa IPB juga saya mengakui ini soal dewa parah hahaha

Oiya satu lagi, adegan saat Bayek di wisuda! Ah, gue hanya bisa diam dan menitikkan air mata. Gue langsung teringat mama. Rasanya ingin sekali cepat-cepat lulus dari tempat kuliah yang sama dengan Mas Iwan ini, IPB, agar bisa berfoto dengan mama bersama dengan toga. Benar-benar gue dibawa masuk kedalam cerita film ini.

9 Summers 10 Autums The Movie 2

Logo dan toga itu………. *nangis*

Buat gue yang sudah “khatam” buku 9 Summers 10 Autumns sejak jaman asrama –ketika Mas Iwan hadir dalam acara di GWW IPB sebagai pembicara, dan juga sudah mengetahui perjalanan Mas Iwan langsung secara dekat, rasanya film ini sangat pas, mirip seperti cerita aslinya. Dan alur cerita yang bulak-balik (antara New York – Batu, ataupun Bogor) memang sangat brilian. Film yang dibuat dengan setting jadul (jaman dulu), yaitu ketika gue melihat bebek honda jadul dengan colt buat angkot, membuat gue seakan ikut berada dalam masa itu. Buat yang bilang Film yang diangkat dari sebuah novel itu pasti kurang keren, rasanya lo harus nonton film ini. Karena Mas Iwan ikut berperan dalam pembuatan film ini.

Perfect, Inspiratif.

Rasanya, jika saya diizinkan untuk membuat rating dari 1 sampai 10 saya akan memberikan nilai 9. Ah seharusnya 10, karena saya tidak menemukan adegan gokil seperti yang sering Mas Iwan ceritakan dalam talkshow, berbahasa Inggris yang penuh dengan “F words” dan berbahasa Inggris pula setiap ngobrol dengan temannya, sekalipun itu di warteg. Tapi biarlah, biar film ini menjadi milik keluarga Indonesia, yang terbebas dari ajaran “what the ****” millik mas Iwan! Hahaha :) Film ini tidak menjual kesedihan, tapi memunculkan inspirasi dan menunjukkan arti cinta di keluarga.

“Aku tak bisa memilih masa kecilku, tapi masa depan itu kita sendiri yang melukiskannya….”

So, tunggu ya premiernya tanggal 25 April 2013 di bioskop seluruh Indonesia! Gue akan nonton lagi bersama Mama, Papa, kakak, dan adik, agar semakin memaknai apa arti “keluarga” kita :)

Salam Apel! Salam cinta buat semua keluarga di seluruh Indonesia :)

9 Summers 10 Autums The Movie 3

Bersama Ihsan Tarore, pemeran utama film ini. Bayek Besar!

9 Summers 10 Autums The Movie 5

Dan ini, foto bersama Bayek Kecil! :)

9 Summers 10 Autums The Movie 6

Foto di angkotnya Bapak! Hahaha bersama Kang Harris dan Mba (mimin @9S10ATheMovie) Satya :))


9 Summers 10 Autumn Premier!

Lagi-lagi gue menulis dalam keadaan hujan dan hanya ditemani nutrisari hangat (lagi) di kosan ini. Suara hujan yang mengantarkan gue dalam posisi “ingin hangat” alias kedinginan. Suara handphone tiba-tiba berbunyi, tidak seperti biasanya. Kali ini, ternyata email yang masuk. Wah ternyata dari Angka Sinema. Penasaran, gue tinggalkan sejenak draft laporan fieldtrip Biologi Laut yang mana penuh dengan coretan revisi. Setelah gue baca email tersebut, hanya senyum lebar dan kemudian epilepsi saat mengetahui gue diundang di premier 9 Summers 10 Autumns the Movie!

Oh my (fucking) awesome goat.

Gue ga sabar untuk melihat adegan sebuah tempat yang dikunjungi pemeran utama dalam film ini. Sebuah tempat keramat dengan scene sadis yaitu hari wisuda. Entah gimana rasanya nanti, pastinya gue akan merinding — semerinding-merindingnya saat melihat toga dan logo tempat itu. Kampusku, IPB-ku. Gue akan melihat sebuah refleksi dari perjuangan yang sama seperti yang gue lakukan sekarang. Semua itu, sebentar lagi. Can’t wait for this movie!! Hahaha

9 Summers 10 Autumns

So, siapakah yang dapat undangan juga? Yuk pergi bareng dari Bogor! Salam Apel :)


Kelakuan di Semester 4

Malam yang hujan ini, gue mau mengucapkan selamat datang kembali wahai Angga Dwinovantyo di blog ini! Sudah sangat lama sekali (boros banget kata-katanya -_-) gue ga posting ataupun sekedar cuap-cuap melalui pemikiran-pemikiran absurd yang kalau diturunkan menghasilkan pemikiran bodoh aksen sesuai yang Pak Ali ajarkan di mata kuliah Persamaan Diferensial Biasa…. *kemudian mati*

HALO SEMUA. Ah gila kangen juga gue ga nulis, alasannya? Sudahlah, selama 5 tahun ngeblog alasannya itu-itu saja. Padahal, pacar ga punya, kuliah ga 24 jam, tugas ga setiap hari ada, dan koneksi internet selalu ada. Tapi ada alasan yang selalu menghalangi gue ngeblog. Gausah diceritain disinilah yaaa… Karena terlalu sakral untuk membahas itu, dan mungkin akan terus menjadi draft di daftar posting blog gue ini. Maklum masalah minoritas.

*Nyeruput nutrisari anget*

Well, mahasiswa semester 4! Bagi gue, Fadhli dan Nafar, menjadi mahasiswa semester 4 ini adalah hal yang keren. Gue bisa ngelewatin asrama putri jam 9 malem dan teriak-teriak ke arah para penjaga pintu neraka (baca: asrama) yang bersiap menerkam para “telat-ers kena jam malam” dengan pulpen dan kertas daftar telat yang sangat bodoh itu. “MASIH JAMAN JAM MALEM? HAHAHA” begitulah kira-kira kalimat yang sering kami teriakkan saat sengaja melewati asrama putri ketika menuju kost kami yang letaknya di dalam kampus. Memang terlihat bodoh, tetapi tidak rasional sekali jam malam ini, seakan menyatakan bahwa waktu malam adalah hanya didedikasikan untuk tidur di asrama; — atau belajar. Buat orang seperti gue, malam adalah waktu paling produktif untuk berkreasi. Contohnya ini, ngeblog. Walau ngalor ngidul.

Kelakuan di semester 4 ini seakan membawa gue ke tingkat yang lebih dewasa, walaupun gue belum pernah lihat majalah dewasa. Bagaimana cara menyikapi keadaan ketika kamu berada dalam posisi terkucilkan (atau biasa disebut dengan minoritas; non warga). Perendahan harga diri oleh seorang senior. Hanya karena tidak mengikuti berbagai acara wajib untuk para junior. Semester 4 gue dihadapkan dengan kondisi sangat gila, up and down, serong kiri dan kanan, bahkan gue bisa disebut lebih alay karena galau masalah ini terus di twitter dibanding dengan alay SMP atau SMA yang galau karena cinta. Sampai teman SMA yang kebetulan 1 kampus heran dengan keadaan gue yang seperti kaum separatis kampus, tapi sayangnya gue tidak seperti itu. Kebebasan seperti masa SMA,seakan hilang dengan menghilangnya gue dari blog ini. Ingin bercerita, tapi pada siapa?

Cukup galau-galaunya, karena banyak hal positif yang didapat dari semester ini.

1. Total SKS di IPB hampir mencapai angka 90-an.
Kegilaan gue untuk belajar dan terus belajar seakan mengabaikan umur gue yang sudah hampir menginjak angka kramat “double two” dengan masa belajar hampir 17 tahun. 2 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 4 tahun SMA, dan 2 tahun kuliah. Keinginan untuk sukses dengan balas dendam mendominasi pikiran gue. Gue hanya membutuhkan kurang dari 50 SKS lagi untuk lulus dari kampus ini, kira-kira 1,5 tahun lagi (amin). Entah orang bilang apa tentang pilihan mengambil 25 SKS dalam 1 semester ini, tetapi yang jelas Senin-Jumat gue habiskan dengan kuliah jam 8 pagi sampai 6 sore, dan Sabtu praktikum selam yaitu renang dengan berangkat pukul 6 pagi selesai pukul 4 sore. Belum lagi hari Minggu yang gue habiskan untuk recovery  sehabis selam. Tidak mengeluh, memang harus beginilah adanya. Hanya menggambarkan betapa inginnya gue segera menjadi Insinyur — yang merupakan dambaan setiap anak ketika sang Ibunda dicoba oleh Tuhan dengan berbagai penyakit, agar sang Ibunda bisa segera berfoto dengan anaknya di acara wisudanya.

2. Mengikuti Kepanitiaan
Konon, sebagai anak Korpus sudah sepantasnya kami tidak bisa mengikuti berbagai kepanitiaan akibat berbeda persepsi. Di Korpus, kami bebas berpendapat, berkreasi, mencari ilmu dengan sesuka kita. Kepanitiaan, yang rata-rata hanyalah sebuah retorika belaka, dengan recruitment sebagai babu kelas elite, dimana maksud dan tujuannya hanyalah mencari pengalaman. Selama ini, begitulah yang gue rasakan — entah dengan kalian. Ketika pengalaman sudah cukup mengajari kita, yang ada hanyalah rasa ingin mendapatkan imbalan yang setimpal dari apa yang kita lakukan. Dan kali ini, gue mengikuti kepanitiaan untuk acara seminar dan expo beasiswa terbesar di kampus, dengan tujuan hanyalah ingin mencari kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri. Tidak lebih, tetapi gue harus bekerja dengan sangat berat. Seperti yang gue bilang: imbalan yang setimpal.

3. Ikut Proyek Dosen
Memiliki dosen pembimbing akademik yang bersahabat dan menyenangkan adalah salah satu faktor yang menguatkan gue ditempat ini. Kali ini, gue bersyukur diberikan kesempatan untuk membantu dosen dalam proyeknya, yaitu untuk mendesign poster dengan sebelumnya melakukan penelitian dalam bidang biologi laut (krustase). Inilah yang gue tunggu dari dulu, saat gue sudah kangen dengan laboratorium hahaha dan semoga saja proyek ini berhasil karena gue akan presentasi di seminar Internasional! Woohooo :)

4. Pencarian Beasiswa Ke Luar Negeri – Pertukaran Mahasiswa
Beberapa hari ini, di kosan kami bertiga (Gue, Nafar, dan Fadhli) memang tergila-gila dengan beasiswa pertukaran. Kami memang aneh, karena kami mencari beasiswa dari negara yang tak lazim, seperti beasiswa dari skandinavia ataupun eropa-eropa timur. Sampai sekarang, kami masih terus mencari beasiswa, dengan mempersiapkan berbagai keperluan. Mungkin, semester depan gue akan mengambil SKS yang lebih sedikit dengan tujuan untuk mengikuti TOEFL Core atau persiapan IELTS demi meraih cita-cita kami yang tidak lazim ini hahaha

***

4 untuk 4 hal yang gila.

Angka favorit gue saat SMA, mengajarkan apa arti hidup. Seperti yang teman gue bilang:

“Untuk jadi sukses, tidak selalu harus dicintai oleh seluruh orang. *sambil gambar hati*” – Alexa

Juga seperti yang teman segoblog-goblognya gue,

“Ternyata hidupnya ga sesenang tertawanya, lari dari agresivitas dan perendahan harga diri….” – Ranggi

Gue adalah Angga Dwinovantyo. Keterpurukan masa lalu adalah senjata untuk gue dimasa depan. Tidak peduli betapa idealisnya gue.

THE WAR IS WON
BEFORE IT’S BEGUN

Maaf karena posting ini aneh, menjijikan, dan tak layak dibaca. Hanya luapan emosi yang sangat terpendam. Maaf sekali lagi.

Salam,

*AD* <– semacam SBY ngetweet aja haha


Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB Terakreditasi Internasional

DSCF5918

Bogor (KORAN KAMPUS) – Dalam rangka mencetak lulusan berkualitas internasional, IPB selaku perguruan tinggi pertanian terbesar di Tanah Air terus berupaya meraih berbagai akreditasi Internasional bagi tiap departemen. Selasa, 5/2/2013 Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan mendapatkan akreditasi internasional setelah melewati tahap visitasi dari Institute of Marine Engineering, Science, and Technology (IMarEST), Inggris. Tahap visitasi meliputi penilaian keadaan kampus beserta kurikulum yang diberikan kepada mahasiswa dan tanya jawab seputar kegiatan akademik dan non akademik antar pihak IMarEST dengan para mahasiswa ITK.

920687_10151540545213431_1708033977_o

Hingga kini, tercatat sudah empat departemen di IPB yang mendapat akreditasi internasional, yaitu Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan yang mendapat akreditasi dari Institut of Food Technologist (IFT) Amerika Serikat, Departemen Teknologi Industri Pertanian dari ABET, Amerika Serikat, dan Fakultas Kedokteran Hewan dari AVBC-Australia. – Angga Dwinovantyo


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,264 other followers