Opini Kenaikan BBM

Di kampus gue lagi rame parah nih tentang rencana kenaikan harga BBM, ada yang pro, ada yang kontra. Nah yang kontra ini yang bikin rame. Gue sih netral, selalu aja netral. Satu sisi gue kasian sama rakyat Indonesia yang bakal kena efek dari kenaikan harga BBM ini, beras makin mahal, cabai makin mahal, sayuran mahal, semua karena proses distribusi yang keganggu akibat bahan bakar untuk transportasinya jadi mahal. Tapi disisi lain, subsidi pemerintah bakal terus naik kalo terus-terusan β€œnombokin” harga BBM yang main mahal ini.

Β 

Indonesia itu bagian dari masyarakat internasional, pasti kita ga bakal tutup mata kalau harga minyak per barel itu naik seluruh dunia, pasti kita kena dampaknya. Kenapa ga sendirian aja kita yang produksi, kita yang pake, orang lain bodo amat? Nah itu gue maaf masih belum ngerti. β€œSwasembada BBM” kayanya gue belum pernah denger hehehe maap ya makanya gue ga bisa komentar :)

BBM naik ada alasannya. Salah satunya dihitung secara (sotoy) ekonomi sebagai anggaran belanja pemerintahΒ  tiap tahun. Nah untuk kali ini, perkiraan pemerintah itu meleset, kalau ga salah hanya sekitar US$ 90/barel aja. Sedangkan sekarang? Udah sampe US$ 120-an. Semua itu tertutupi oleh subsidi BBM yang pemerintah kasih untuk meringankan harga BBM dunia yang terus naik itu. So, banyak yang berspekulasi, kenapa ga dipotong dari anggaran para PNS aja? Kan dana subsidi jadi banyak sehingga harga BBM yang kita beli jadi sama aja ga terpengaruh minyak dunia?

Well untuk hal ini, gue cukup mengela nafas sampe kentut gue masuk lagi ke perut. Kedua orang tua gue adalah PNS, yang sekarang hidup biasa aja ga susah banget ga gampang banget karena mama pinter ngatur duit yang sangat pas itu. Nah, emang sih PNS itu gajinya dipotong untuk subsidi BBM, bisa meninggal dimakan kutu kasur kali gua? Kalo aja semua PNS itu marah dan meninggal kaya gue (lah?), berarti yang ngatur negara ini siapa dong? So, saran yang ini resmi gue nikahkan dengan comberan.

Sekarang kalau misalnya BBM itu dipakai oleh (sebagian) orang yang agak lebih (gue ga bilang kaya karena kaya adalah relatif) selama ini yang boros banget pake BBM siapa ya? Orang menengah ke atas yang suka pake mobil, kan? Hehehe… Punya mobil identik dengan orang yang menengah ke atas, tapi ga semua orang punya mobil adalah orang menengah ke atas. Motor bebek rata-rata gak begitu banyak yang menghabiskan BBM, sekalipun itu yang pake orang menengah ke atas tadi. Jadi yang mau gue tekankan disini, berarti permasalahan utama masalah ini adalah orang menengah ke atas janganlah pake BBM yang ada subsidi lah… Ini balik lagi ke pribadi masing-masing, mau mempersulit diri sendiri apa ngga? Gue sih lebih setuju dengan BBM bersubsidi dipake oleh mobilnya tukang sayur, tukang ayam, dll yang berhubungan dengan sembako, supaya efek domino kenaikan BBM ini ga terjadi.

Jika rakyat terus dimanjakan dan makin terbuai, apakah pemerintah terus-terusan harus mengorbankan anggaran lain demi subsidi BBM? Cadangan minyak makin menipis, bakal impor dari arab yang harganya mahal. Untuk mengatasi hal yang mahal itu, subsidi kembali, orang menengah ke atas kembali yang make, begitu terus sampe habis lagi.

Sekali lagi, kita udah terlalu menjadikan BBM ini sebagai Tuhan. Segalanya bergantung kepada BBM. BBM naik rakyat menjerit, padahal ga semua rakyat Indonesia ikut terpengaruh denganΒ  kenaikan ini. Masih ada saudara kita di Papua sana, yang lebih butuh makanan dibanding subsidi BBM. Lebih baik kita mengalah untuk mereka, dengan naik Rp 1500 kita sudah terlalu menganggap itu cobaan yang berat? Ingatkah sebelum harga BBM seperti sekarang (Rp 4500) ini harganya lebih mahal? Masih bisa tetap hidup kan?

So sekali lagi, sebagai pelajar yang masih belajar Ekonomi Umum (masih tingkat, 1 hiks), semua anggapan ini adalah dari gue pribadi. Ga ada data-data yang akurat, Cuma sebagai opini. Sebenarnya penting gak sih kalian ikut demo? Apa lebih baik belajar demi UTS kita supaya lebih berilmu kemudian mencari alternatif selain BBM yang Β terlalu dituhankan oleh kita? Apa mungkin setuju dengan pendapat gue: β€œAmbil aja pajak yang besar dari perokok yang ga protes duit Rp 12.000 hanya utuk dibakar aja?” Toh mereka ga akan meninggal kan kalo ga ngeroko? Sekali lagi, Cuma opini aja. *kabuuuur*

Oke itu aja dari gue. Setidaknya gue ga ikut demo tapi gue juga ga apatis, gue tetep berfikir plus minusnya dampak kenaikan harga BBM ini. Hehehe don’t judge book by it’s cover. Biarpun gue gendut, gue tetap tampan. Biarpun gue ga ikut demo, tapi gue ga asal komentar. Thanks guys udah mau baca opini gue :D

About these ads

10 thoughts on “Opini Kenaikan BBM

  1. idenya mangtapsss mas… kalo seandainya TENAGA dan PIKIRAN mereka (yang suka demo) dipakai untuk mengelola SDM mungkin BBM gak perlu naik ya mas………

  2. hehe.. bukannya kenaikan BBM itu hanya semuanya dikerjain?? kan April Mop… hehehehehehe.. jadi ada saatnya pemerintah ngerjain rakyatnya.. hehe.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s