Author Archives: Angga Dwinovantyo

About Angga Dwinovantyo

A student who always makes everything going fun, loves photography, family, and friendship. This blog is about his freaking school life, absurd, and unbelieveable weird story. Email me at anggano[at]gmail.com or subscribe this blog.

Kontroversi Konser Lady Gaga

Oke, postingan ini gue dedikasikan bukan buat siapa-siapa, hanya pendapat seorang anggota masyarakat yang sotau yang aslinya sih nggak ngerti gimana sistem pemerintahan Indonesia ini tentang aturan konser yang sebenarnya. Soalnya orang ini bingung, kenapa konser Lady Gaga di Indonesia ini batal? Apa yang terjadi? Dan atas dasar apa aja yang membuat “mereka” yang melarang ini tidak menyetujui adanya Konser Lady Gaga.

Image

Lady Gaga, Stefani Joanne Angelina Germanotta, adalah penyanyi pop yang sangat kontroversial. Gue ga pernah heran dengan hal ini, mau dia dibilang penganut “satanic” atau apalah itu, yang jelas gue percaya SEMUA penyanyi di luar negeri itu ada pengaruh dari para Illuminati, yaitu penyembah satan/dajjal. Jangankan Lady Gaga, musisi Indonesia aja ada yang Illuminati. Apalagi, dia bawa-bawa “mata satu” (simbol Illuminati) itu ke acara dia…

Gue sebagai orang yang beragama, gue menentang hal yang kaya gini. Menyembah setan adalah suatu hal yang sangat salah. Tapi, bisa ga sih kita open minded dan mengambil hal-hal yang positif dari dirinya? “Mereka” yang gue sebut-sebut menentang konser ini mempersalahkan hal-hal seperti berikut:

“Banyak masukan, karena ini masalah sosial budaya. Dari MUI dari fraksi di DPR dan berbagai elemen masyarakat, terlalu vulgar ya. Joget-joget pakai bikini di videonya. Itu terlalu vulgar, tidak sesuai dengan budaya kita,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto saat dikonfirmasi, Selasa (15/5/2012). Sumber: detikHot.

Oke, bisa diterima alasan karena tidak sesuai dengan budaya kita. Tapi pak, maaf banget, maaf sekali lagi, coba lihat video dibawah ini yang “sesuai” dengan budaya kita coba pa…

Mengapa mereka dibiarkan BEBAS untuk nongol di acara TV, setiap hari sambil joget-joget (yang walaupun tidak seekstrim di video itu), ditonton jutaan pemirsa TV?  Tapi kok nggak ditentang ya?

Sedangkan Lady Gaga, yang cuma “numpang lewat” konser, dan tidak begitu banyak orang yang menonton (jika dibandingkan dengan pemirsa TV), sekarang dilarang untuk tampil?

 

Logikanya sih, aneh ya?

***

Ada lagi alasan lainnya, yang gue baca sih Lady Gaga katanya mendukung kaum lesbian, transgender, dan gay. Ini terbukti dari liriknya. Setelah gue cari liriknya ada tuh kata-kata yang bilang ‘gay dan lesbian’, itu dari lagu Born This Way.

Kira-kira kalimatnya seperti ini…

No matter gay, straight or bi Lesbian, transgendered life I’m on the right track, baby I was born to survive

Kalimat itu kalau dibaca sepenggal memang terlihat menjijikan. Artinya kurang lebih “Tidak peduli gay, lesbian atau bi (biseksual),  transgender saya di jalur yang benar, sayang, saya lahir untuk bertahan hidup.”

Emang, benar-benar menjijikan.

Tapi please, sekali lagi, please be ‘open minded’ dan ‘positive thinking’.

Setelah gue baca secara keseluruhan, lirik itu lebih bersifat kemanusiaan. Dia itu bukan mendukung, tetapi peduli terhadap kaum-kaum minoritas yang semua orang tau, mereka kaum minoritas itu selalu dikucilkan oleh masyarakat.

I’m beautiful in my way, ’cause God makes no mistakes, I’m on the right track, baby I was born this way. Don’t hide yourself in regret, Just love yourself and you’re set, I’m on the right track, baby I was born this way.

Don’t hide yourself in regret. Jangan menyembunyikan dirimu dari penyesalan.
Just love yourself. Cintailah dirimu.

Ya, itu buat mereka para lesbian, gay, transgender, dan biseksual. Dengan digabungkan lirik yang tadi, berarti pengertiannya menurut gue: Tidak peduli gay, lesbian atau bi (biseksual),  transgender, jangan menyembunyikan dirimu dari penyesalan, cintailah dirimu.

Bukankah itu baik dan menginspirasi mereka yang “minoritas” itu?

Bukan cuma minoritas, coba juga lihat video anak kecil asal Filipina ini, Lady Gaga benar-benar menginspirasi dirinya.

Anak kecil itu bernama Maria Aragon. Dan akhirnya, Maria Aragon pun telah konser bareng Lady Gaga, mimpinya jadi nyata bukan?

So, what the main of topic? Disini sebenarnya cuma masalah perspektif. Ada yang memandangnya negatif, ada yang positif. Itu terserah orang, pendapat saya ini bukan menyerang siapa-siapa. Hanya pendapat. Lagi pula, saya bukan fans berat dia, saya tidak ada untung ruginya kalau Lady Gaga jadi tampil atau tidak. Saya lebih menyukai band ‘Green Day’ yang sampai sekarang masih dikecam tidak boleh konser di Indonesia. Entah apa alasannya.

***

Dan kesimpulan yang agak aneh gue rangkum disini.

1. Lady Gaga icon pornoaksi dan pornografi? Tidak sesuai dengan budaya timur? — Menurut gue engga juga. Masih banyak artis lokal yang bebas pamer tubuh di TV dan tidak dipermasalahkan. Kenapa cuma Lady Gaga? Coba liat kebanyakan artis dangdut di TV? Lebih parah! Liat aja video yang gue kasih tadi.

2. Konser kemaksiatan yang menghamburkan uang dari tiket yang mahal Rp 465.000 – 2.250.000 (sedangkan sekitar kita masih banyak orang yang kelaparan). — I dont give fuck. Konser Justin Bieber sama Super Junior aja yang sama mahalnya kaga dilarang. Itu hak mereka. Itu uang mereka. Anggota DPR aja bisa kok bebas jalan-jalan ke Jerman pake uang rakyat. Eh sekarang mereka melarang karena konser ini kemahalan. Ga percaya? Cek video ini.

3. Lady Gaga pendukung Gay, Lesbian, dan Transgender? Lha, maaf ya ini. Gue bukan gay lho hahaha apalagi lesbian -__- … Btw maaf ya sekali lagi, Dorce itu dulunya laki-laki kan?  Trus dia kenapa dipanggil Bunda Dorce? Hehe cuma mau mastiin aja sih. Kok dia bisa bebas ya di TV kita? (^^)v

dan satu lagi, ini humor lho dari temen gue…

Cowo cantik aja boleh tampil di Indonesia hahahaha

Oke, pendapat gue, Konser Lady Gaga sebaiknya tetap diadain aja. Alasannya kurang kuat buat ngebatalin konser ini. Soalnya banyak yang lebih parah dari dia, apalagi di TV. Kasian juga yang udah antri lama-lama demi dapet tiketnya. Buat yang berkoar-koar ga setuju konser ini, sekarang gue tanya, “Beli tiket konsernya kaga?” kalo ngga sih yaudah, ga rugi ini hehehe *jitak Angga*

Greeting from me, Mother Monster.

No matter gay, straight or bi Lesbian, transgendered life I’m on the right track, baby I was born to survive


A Letter From Indonesia: Cerita Sebuah Harapan

28 Januari 2011.

“Angga, habis magang ini selesai kamu mau nerusin kemana?”

Begitulah kalimat yang pembimbing saya tanyakan sewaktu selesai sidang dalam ujian akhir masa magang ini. Ya, saya telah selesai menyelesaikan tugas akhir saya sebagai ‘anak magang’ di institusi minyak dan gas bumi ini. Pak Syafrizal, seorang peneliti yang menjadi pembimbing saya selama 3 bulan berada di tempat ini. Begitu banyak ilmu dan cerita yang saya peroleh ditempat ini. Suka, karena mereka semua baik terhadap kehadiran sementara saya disini. Duka, berat hati ini karena harus pisah dari orang tua selama 3 bulan lamanya.

Pak Syafrizal, sebagai pembimbing beliau selalu membimbing saya dengan baik. Mulai dari memberi arahan kerja di laboratorium lantai 5 Gedung Proses ini, berbincang-bincang seputar penelitian yang akan kami lakukan, sampai yang paling saya ingat itu: mengizinkan saya pulang ke Bogor karena sangat homesick berada di Jakarta.

Selain itu juga beliau sangat “khawatir” dengan masa depan saya. Ya, waktu itu saya hampir memutuskan untuk bekerja setelah lulus dari Sekolah Analis Kimia ini. Saya akan bekerja. Bekerja sebagai buruh pabrik yang bekerja shift sampai malam. Lembur, Sabtu-Minggu terus bekerja. Itulah yang mengganggu dirinya. Beliau berkata begitu karena ada 1 hal yang beliau yakini, yaitu saya masih memiliki potensi yang masih bisa berkembang dalam dunia penelitian ini.

Khawatir dalam hal yang sangat positif. Beliau tidak ingin masa depan saya hanya menjadi buruh pabrik selamanya. Beliau ingin saya terus melanjutkan studi dalam bidang analisis kimia ini, khususnya setelah saya berhasil menemukan formulasi perhitungan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dalam pengaruh klorin (Cl-) yang tinggi. Beliau ingin saya terus melakukan penelitian.

Maka, sore itu, perbincangan yang serius pun terjadi.

“Angga, saya punya saudara, beliau itu tinggal di Malaysia. Kalau kamu mau kenal ini ambil saja kartu namanya. Beliau adalah Professor di International Islamic University Malaysia. Beliau bernama Irwandi Jaswir, sepupu saya.”

Terima kasih pak.Tapi, apa yang harus saya lakukan? Menelpon sepupu bapak ini? Wah, di luar negeri pak, mahal. He he he”

Coba hubungi beliau lewat surat elektronik. Kamu harus percaya hal ini. Sewaktu lulus dari Teknologi Pangan IPB, Pak Irwandi ini sering mengirim surat ke professor-professor universitas luar untuk menanyakan beasiswa, kesempatan kuliah di luar negeri, dan sebagainya. Nah, siapa tahu, kalau kamu mengikuti caranya, beliau teringat masa lalunya dan memberikan kamu kesempatan kuliah di universitasnya yang sekarang.”

Image

Setelah hari itu, tiga hari kemudian saya berpamitan kepada beliau dan seluruh staf  Gedung Proses institusi tempat saya magang itu. Saya kembali ke Bogor. Pikir saya, hanya kembali ke rumah saja dan kembali bertemu teman-teman. Masa-masa menyiksa tak bertemu orang tua telah lewat. Toh pada akhirnya, saya telah selesai mengerjakan tugas saya dengan baik di tempat magang saya itu.

Malam harinya.

Saya terbangun oleh pikiran-pikiran yang mengganggu saya dalam 2 hari belakangan ini. Entah mengapa, tiba-tiba saya ingin mengirimkan surat elektronik kepada Pak Irwandi. Siapa tahu saya mendapatkan kesempatan belajar seperti yang Pak Syafrizal katakan empat hari yang lalu.

Ku nyalakan komputer, ku hubungkan dengan internet, ku buka browser, ku ketikkan alamat, nama email dan password, ku klik ‘tulis surat’, setelah itu tinggal mengetik alamat email. Saya cari kartu nama itu, agak sulit karena gelap, dan… ketemu, lalu saya isi alamat tujuan surat ini.

Ayah saya terbangun, dan menanyakan maksud saya bangun tengah malam ini. Beliau menyarankan saya untuk tidur terlebih dahulu, dan berjanji akan membantu saya menulis surat elektronik ini pada esok hari.

***

Rabu, 2 Februari 2011.

Kutulis surat seperti gambar dibawah ini….

Image

Surat pun terkirim. Ada perasaan takut salah dengan surat itu. Apakah isinya terlalu to the point atau terlalu basa-basi. Entahlah, saya hanya ingin mengirimkan surat itu kepada Pak Irwandi. Hanya berharap beliau membaca surat itu ditengah kesibukannya sebagai Professor. Masalah kesempatan kuliah di luar negeri atau tidak, itu urusan lain.

Setelah mengirim surat itu, saya tidak memikirkan sama sekali ingin bekerja. Sangat malas untuk membayangkan kerja keras dengan upah yang tidak sebanding dengan keringat. Saya sangat membenci hal seperti ini. Hak yang diterima tidak sesuai. Saya takut kalau kejadian ayah saya terulang lagi. Beliau nyaris saja menjadi sarjana, andaikan waktu masa tahun terakhirnya kuliah dilanjutkan. Dan hingga saat ini, beliau terus saja bekerja dengan keras, dan menerima upah yang tidak sebanding dengan kerja kerasnya.

Saya ingin menjadi sarjana.

Hari demi hari, saya terus berharap beliau membalas surat elektronik saya. Pak Syafrizal sesekali SMS saya menanyakan kabar dan rencana apa yang ingin saya ambil selanjutnya. Entahlah, tapi saya telah mencoba mendaftar kuliah melalui SNMPTN Undangan ke IPB, tempat ayah saya gagal memperoleh gelar sarjananya. Selain itu, saya mencoba apply beasiswa di luar negeri. Ada satu universitas yang menerima saya di Amerika sana. Tetapi saya harus membayar kira-kira $4000 per-tahunnya. Hanya uang kuliah (tuition fee). Itu sudah termasuk potongan beasiswa yang saya peroleh.

Saya tidak membicarakan hal itu pada orang tua saya, toh saya tahu kalau mereka sudah pasti tidak mampu untuk membayar kuliah dan biaya hidup saya disana. Saya hanya berharap pada 2 kesempatan saya, yaitu diterima SNMPTN Undangan oleh IPB atau diberikan kesempatan kuliah oleh Pak Irwandi Jaswir di universitasnya.

***

28 Mei 2011.

Saya diterima di IPB. Kegembiraan tampak di wajah ibu saya. Cita-citanya sederhana, hanya ingin melihat anaknya menjadi sarjana di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dari sini saya mempercayai bahwa bahagia itu sederhana. Dengan melihat orang tua kita “menangis” akibat tindakan kita yang membuatnya terharu sampai menitikkan air mata saja, sudah membuat saya bahagia.

Saya melanjutkan kuliah, kembali harus meninggalkan kedua orang tua untuk tinggal (wajib) di Asrama TPB. Walaupun kali ini “ujian untuk tidak bertemu orang tua” lebih ringan, karena hanya berjarak 20 km dari orang tua, tidak seperti saat magang di Jakarta.

***

Rabu, 11 April 2012

Saya sedang ujian tengah semester genap. Sudah tidak begitu berharap surat elektronik yang saya kirim lebih dari setahun lalu dibalas oleh Pak Irwandi. Saya sudah memakluminya, karena kesibukannya mungkin beliau tidak sempat melihat email saya. Entah tertimbun diantara surat-surat elektronik milik beliau lainnya atau perasaan yang dahulu saya rasakan yaitu ada yang salah dengan isi surat saya. Saya sudah ikhlas menjalani semua rencana yang Allah berikan. Toh kalau dibalas dan tidak mendapatkan kesempatan belajar disana, saya sudah mendapatkan rencana terbaik yang Allah berikan, kuliah di IPB.

Tiba-tiba telepon saya berbunyi, dan lampu LED dari handphone berwarna kuning. Oh email, saya pikir. Ah paling dari blog ini, he he he.

Saya kaget. Pengirimnya adalah IRWANDI. Saya berusaha berfikir dengan tenang, ah tapi emosi mengalahkan pikiran saya. Yang benar ini Pak Irwandi Jaswir membalas surat saya? Ah rasanya saya senang sekali. Bukan hanya dibalas, “yeah thanks for this email”, atau “I’m sorry late to reply this email, I’m busy” tetapi beliau membalasnya seperti ini…

Image

Ya, memang tidak ada beasiswa untuk pendidikan setingkat Strata-1, artinya tidak ada kesempatan untuk saya bersekolah di luar negeri sekarang ini. Hanya ada ‘janji’ yang beliau berikan, asalkan nilai yang saya dapatkan bagus, bukan tidak mungkin ada kesempatan lainnya. Ya, saya hanya bisa berjuang kali ini ditempat ini, Institut Pertanian Bogor.

Kemudian saya membalas surat elektronik itu…

Image

Dan mungkin, email itu tidak terbaca kembali, sampai suatu saat beliau ‘menemukannya’ lagi diantara email-email beliau yang lain he he he..

Begitulah pengalaman “A Letter From Indonesia” versi Angga Dwinovantyo, yang sengaja saya tulis di blog ini agar nanti, suatu saat, entah kapan itu, ketika saya melanjutkan kuliah di luar negeri, saya dapat membaca tulisan ini kembali. Dan sebagai bukti bahwa saya telah berjuang untuk mendapatkan cita-cita kuliah di luar negeri dari dahulu. He he he

Selamat bermimpi, berjuang, dan menjadikan mimpi itu nyata, le friends! YNWA!!


Get Well Soon (Again), Mom…

There is no love like a mother’s love,
no stronger bond on earth
A mother’s love is forever strong,
never changing for all time
When I’m far away from her
need her most,
She will stay at your heart and mind.
I love you, Mom.
Because I know, mother’s never want anything from us. And mother’s prayer, always accompany with our journey.

Get well soon mom, I miss your smile, here.