PKPI-PMDSU 2018: Mimpi Belajar ke Luar Negeri Menjadi Nyata

Hulla minna-san! Piye kabare? Mugi-mugi daramang nyak. Sukses terus bagi kita semua which is very important to keep our body and soul. Mantap soul. Mio soul. (lah ini bahasanya campur gini anak Jaksel aja kalah kali ya, haha).

Gak ada angin, gak ada kentut, tau-tau gue keinget lagi sama blog ini. Blog yang nemenin gue dari jaman beli cilok aja masih kritis kalau ciloknya cuma dikasih empat padahal belinya lima ribu, kan harganya seribuan huhu. Kalau pergi ke sekolah pasti aja bikin masalah: entah dimarahin guru karena gabisa ngerjain soal fisika dari Bu Vera atau remedial semua mata pelajaran termasuk fisika-nya Bu Vera. Semua gue tulis di blog ini. Benar-benar blog ini saksi (tidak) hidup perjalanan gue. Bahkan gue sekarang menyadari mengapa kealayan itu disebar ke khalayak netizen. Padahal netizen itu lebih kejam dari ibu-ibu yang nyelip antrian di Indomaret. Asli kejam banget bu, takut :(

Anyway, gue nulis ini di Hakodate, Hokkaido, Jepang. Keren ya? hehehe engga. Baru pulang dari kampus, terus di apato (macem kosan) sepi dan hanya ditemani suara jangkrik lagi latihan hymne IPB. Engga gitu juga sih, tapi ya sepi aja kaya hati ini. Baru kemarin sampai sini setelah perjalanan yang engga capek sama sekali. Yaiyalah kurap, sepanjang perjalanan elu tidur full dari awal sampe akhir! Bangun sebentar cuma pengen pipis aja, abis itu tidur lagi. Itulah alasan kenapa gue suka banget duduk di deket jendela pesawat, karena bisa tidur tanpa diganggu orang mau lewat buat pipis! Yeahh!!

Semangat amat yak kaya ikutan Family 100.

Gue mau sedikit cerita kenapa gue bisa ada di Hakodate sekarang ini. Gak terlalu seru sih ceritanya. Tapi semoga pesannya sampai dihati para pembaca blogQ yang lucuW. Jadi ceritanya gue naik pesawat dari Cengkareng trus sampe deh di Bandara Hakodate. Tamat.

Gak gitu deng. Nih cerita seriusnya dimulai dari sini.

Ganteng bat itu temboknya. Ngalangin aja sih mas-mas yang nyender.

***

Program Beasiswa Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional – PMDSU, atau lebih singkatnya disebut PKPI-PMDSU adalah program dari Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia – Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemristekdikti untuk memberikan kesempatan penerima PMDSU melakukan internship di lembaga ilmiah terkemuka di luar negeri sesuai dengan rencana studi yang telah disiapkan. Program ini salah satunya mendukung gue untuk melakukan riset yang bener-bener gak bisa dilakukan di Indonesia, sedangkan masyarakat bidang riset gue (dalam hal ini Akustik Kelautan) sudah buanyaaak sekali mengaplikasikan metode dan alat/instrumen riset tersebut untuk penelitiannya.

Misalnya gue harus mengukur kekuatan target strength objek bawah air pada kondisi yang sangat terukur untuk membandingkan terhadap model numerik yang dibuat. It’s not that easy, apalagi riset akustik kelautan itu sebetulnya mahal sekali dan gak akan cukup pakai dana hibah penelitian yang sudah disediakan. Nah untungnya kuliah di dalam negeri adalah gue jadi harus muter otak gimana caranya tetap bisa membuat paper berskala internasional dengan budget yang seadanya.

Kalau nikahan di Bogor mah ibarat kata pengen nikah di gedung Puri Begawan, tapi budget Bale Binarum. Begitulah kira-kira. Hehe jadi pengen nikah deh (LAH KOK GINI).

Keterbatasan alat adalah tantangan bagi para mahasiswa yang kuliah di Indonesia, terlebih mahasiswa S3. Hal ini nggak baik kalau dibilang suatu masalah, ini adalah tantangan. Mungkin di luar negeri agak ringan karena alat semua tersedia (ya walaupun tantangannya homesick dan jauh dari keluarga dan teman), tapi untuk urusan ilmiah, lebih mudahlah dibanding yang kuliah di dalam negeri. Apalagi PMDSU, wuihhh target papernya mantep rek! hahaha minimal DUA-jurnal-internasional-bereputasi dan SATU-jurnal-nasional-terakreditasi. (Kemudian mengheningkan cipta)

Gue mau cerita secara runut dari awal sampai akhir ya. Gue nulis ini karena belum ada yang nulis cerita ini sebelumnya. Siapa tahu bermanfaat. Kalo gak bermanfaat mah putusin aja. Buat apa menjalin hubungan satu arah. Huhu kenapa sih, Ngga.

1. Akhir April 2018

“Angga, beasiswa PKPI-PMDSU sudah dibuka. Silakan dicoba.”

Promotor gue WA seperti itu. Panik langsung buka Instagram dan liat Instastory orang dari awal sampai akhir. Dua jam habis percuma. Abis itu menyesal telah membuang waktu 120 menit untuk hal tak bermanfaat. Akhirnya mandi dan langsung cus ke kampus. Anak-anak PMDSU di IPB udah pada panik karena deadline nya cuma beberapa hari. Anjaaaaayyyyy… begitu liat persyaratannya… Ya Allah pengen nikah aja (WOY FOKUS). Dari 5 syarat administrasi utama, belum semua terpenuhi. Masih ingat banget buat tweet seperti ini:

Kegalauan tingkat dewa bujana dan teman-temannya di Gigi Gingsul. Semangatnya warbyasah, persyaratannya tidak wagelaseh berat, biar aku aja.

Deadline 31 April 2018, dan H-3 masih belum dapat apa-apa juga. Syaratnya kurang lebih begini:

1. Letter of Acceptance, ini penting banget karena berkaitan dengan diterima/nggak kita di universitas atau instansi tujuan. Mintanya ke promotor host disana, tips.. perlu cantumin keterangan dari kapan sampai kapan dan biaya bench fee (kalau ada). Dijamin klo udah ada LoA dan lengkap serta jelas mau ngapain disana, kemungkinan diterimanya lebih tinggi.
2. Surat izin dari dekan pascasarjana. Kolektif saja dengan teman-teman seperjuangan, biar cepat! Haha
3. TOEFL ITP. Harus >500 dan bukan prediction TOEFL. Alhamdulillah waktu itu cuma 500, padahal tahun sebelumnya syaratnya >560. Disini kita harus banyak berdoa karena syarat TOEFL ini bisa berubah-ubah.
4. Surat keterangan dari Pasca kalau sudah lulus ujian preliminari lisan atau kolokium. Ini penting banget karena banyak yang gugur sebelum bertarung karena belum melakukan prelim.
5. Usulan kerja PKPI. Disini harus jelas diterangkan untuk apa ikut PKPI (tipsnya sertain keterangan jurnal apa yang akan dimasukin/disubmit. Kalau bisa screenshot dari Scimago dan Q berapanya).

Dari kelima itu, belum ada satupun yang terpenuhi.

Syarat nomor 1, harus minta ke professor (host) di luar negeri. Posisinya waktu itu beliau lagi business trip. Jadinya beliau minta contoh LoA ke gue dan LoA gue dari beliau akan dikirim ketika beliau pulang pada tanggal… 30 April. Mepet banget kan? Langsung aja gue minta contoh dari temen yang udah dapat LoA dan dikirim ke beliau. Kebayang waktu itu gue cek email tiap 10 menit sekali saking takut lewat deadline. Akhirnya, email itu datang, persis jam 11 malam hari itu. Jepang dan Indonesia beda 2 jam, dan beliau kirim LoA itu dari Jepang jam 1 malam, ketika beliau baru sampai rumah. Sugoii emang Mukai-Sensei, terbaik!!!

Letter of Acceptance

Syarat nomor 2 akhirnya dikolektif sama temen gue, jadi benar-benar terbantu.

Syarat nomor 3, akan TOEFL pada tanggal 9 Mei 2018! Hahaha… sebenarnya waktu itu TOEFL yang gue punya masih berlaku, cuma akan habis masa berlakunya ketika program PKPI ini berjalan. Daripada bermasalah, jadinya gue test lagi. Sementara pakai yang lama, dan Alhamdulillah bisa.

Syarat nomor 4, karena definisi sudah lulus ujian proposal itu beda-beda, makanya waktu itu habisin sampai kolokium. Di program studi gue, kolokium itu gak bisa sendiri-sendiri, karena udah ada jadwalnya. Jadinya yah ngurus berkas ke pasca dan bikin surat keterangan dari prodi bahwa akan kolokium pada tanggal segini-segini. Alhamdulillah pasca waktu itu bantu banget, karena sudah terencana. Jadi waktu upload bagian ini, bikin keterangan sudah lulus ujian proposal (walau belum kolokium) dan kasih berita acara ujian prelim lisan. And everything is fine. Tips: kelarin deh sampai kolokium sebelum deadline.

Syarat nomor 5, disini kekuatan kita diuji untuk menjadi ‘The Next Project Leader‘. Kita buat rencana detail nanti di luar negeri mau apa aja, buat proposalnya, metodenya seperti apa, bagian mana yang mau dikerjakan, dan sebagainya. Kalau hal ini, gue bisa buat cepat, karena yang tahu penelitian kita kan kita sendiri. Jadi yah ini selesai paling duluan.

***

Untuk tahap awal seleksi itu saja, abis itu kalo lolos dan dipanggil wawancara, ada berkas lainnya:

1. Form EIP, isinya keterangan dan poin-poin progress disertasi plus jurnalnya. Ini yg paling diliat sama interviewer pas wawancara.
2. TOEFL ITP asli dibawa.
3. Manuskrip jurnal (sebisa mungkin masukin hasil yang sudah dicapai sampai saat ini dan predicted hasilnya ketika selesai PKPI). Karena yang punya gawe kan kita, pasti tahu dong kira-kira mau dibawa kemana hubungan kita. Aku sih serius. Eh maksudnya nanti hasil akhirnya mau kaya gimana, kasih contoh dari beberapa jurnal acuan kita.
4. Lembar pengesahan proposal. Waktu itu karena sekretaris dekanlagi sakit, jadi prosesnya seminggu lebih. Harus antisipasi hal-hal gak terduga kaya begini 😢
5. Bukti komunikasi dengan promotor host disana. Diprint aja semuanya termasuk kita minta LoA segala macem haha… kebetulan karena gue udah ngebet banget pengen join lab bernama “Laboratory of Marine Environment and Resource Sensing” di Hokkaido University, Jepang, khususnya udah ngefans banget dengan Professor Tohru Mukai, jadinya gue temenan di facebook, email-emailan, sampai saling follow di Instagram dong! Di IG, In-Sta-Gram. Gawlss banget gazeh hahaha… segala cara lah pokoknya biar beliau tahu siapa urang. Beuh urang tea, urang aring.
6. CV Professor (host) di Luar Negeri. Tips pas wawancara: ditanya jurnal promotor host yang mana yang sama dengan penelitian kita, apa jurnal promotor host yang paling bagus, berapa h-index nya, udah pernah ketemu apa belum? Seberapa kenal kita sama promotor sana. Waktu gue ditanya-tanya ini, kan kita komen-komenan di IG ya, itu komenannya juga gue print dong hahaha biar banyak bukti kalau kita itu sebenarnya ayah dan anak (?). Haha ngawur.

Abis itu nunggu pengumuman, kalau keterima, nanti ada lokakarya pra-keberangkatan.

Lokakarya Pra-Keberangkatan PKPI 2018 Batch I. Lihat siapa yang paling bersinar (kena lampu).

***
ADMINISTRASI

1. Letter of Eligibility… Buat di Jepang, ini sangat perlu. Perlu untuk apply visa dan takes time +- 1 bulan. Luar biasa menunggunya haha gue telat beberapa hari keberangkatannya, tapi masih aman untungnya. Hanya terkendala dari proses pengiriman yang membutuhkan waktu beberapa hari
2. Biaya bench fee udah harus fix dan health insurance dari univ ada apa engga.
3. Rencana keberangkatan. Kalau bisa sudah punya tanggalnya untuk janjian sama professor di negeri tujuan.

With Pak John, dosen oseanografi fisika dan aktif juga di Instagram (tetep ye IG)

Abis itu? Kalau kata Pak John Pariwono (narasumber dari Dikti saat pra keberangkatan juga dosen gue di kampus), administasi ini sangat menentukan jadi tidaknya kita berangkat, PLUS… kalau sakit dan sebagainya juga menentukan. Intinya kalau kita sudah duduk di pesawat dan pesawatnya sudah take off, baru kita bisa bilang, “Saya berangkat ke luar negeri”.

Akhirnya berangkat! Alhamdulillah… dengan segala perjuangan dan pengorbanan… dan cinta.

Selama persiapan dan pengurusan administasi, gue banyak meminta bantuan Direktorat Program Internasional IPB. Khususnya Ibu Sintho dan Pak Is. Terima kasih banyak atas bantuannya Ibu dan Bapak! Juga, a big big big thanks buat Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kemristekdikti khususnya Pak Jims, Bu Dias, Bu Ratna, dan orang-orang dibelakang layar yang sudah membantu saya sampai bisa berangkat. Tanpa beliau-beliau ini rasanya gak mungkin gue bisa berangkat kesini. Special mention buat Pak Dr. Rino Mukti dan Bapak Prof. Supriadi Rustad yang meloloskan saya pada tahap wawancara. Beliau ini orang-orang hebat semua. Terima kasih Ya Allah sudah diberikan kesempatan dan dipertemukan oleh seluruh orang hebat ini…

With Ibu Sintho, she teach me lots of things and opened my horizons

Begitu kira-kira gambaran perjuangan PKPI. Itu baru di awal, belum kelanjutannya ya… yaitu survive di negeri orang! Hehe nanti gue buatin cerita lengkapnya.

See you in the next post! Bhaayyyy…

Hakodate, 23 September 2018

02.04 A.M. // Nulis kaya begini aja beberapa hari, ampun.

Kebangun karena kedinginan, gak ada kamu :(

Advertisements

Kesampean lagi! Lari pagi sampe sini 😄🏃🏻 – at Tokyo Skytree (東京スカイツリー)

View on Path

Melakukan sesuatu yang berguna, produktif, dan berfaedah, di umur yang seperempat abad ini…
(Tua! 😂)

Terima kasih atas ucapan dan doa kawan sejawat, dosen-dosen, guru-guru, dedek-dedek gemez semuanya… matur nuwun sanget. Semoga segala hal yang baik dalam doa tersebut kembali juga pada kalian, Aamiin Allahuma Aamiin 🙏🏻 – at Institut Teknologi Bandung (ITB)

View on Path

Mimpi Seperti Nyata

03.30 terbangun dengan air mata yang mengalir. Begitu jelas, begitu nyata. Dari kejauhan saya melihatnya. Seberang jalan. Seperti biasanya, tak bersuara, tak juga berinteraksi dengannya.

Ada apa malam ini?

Saya bisa menghampirinya, memeluknya, menciumnya, dan mengeluarkan air mata bahagia karena bertemu kembali.

Mama.

Dalam pelukannya mama bilang “impian tanpa harapan itu tidak akan jadi kenyataan. berusahalah”

Saya terbangun. Bisa merasakan hal itu adalah suatu mimpi. Tak tahu apa artinya, yang jelas hingga saat ini tak bisa berhenti meneteskan air mata. Ma, Aa kangen.

Allahumagfirlaha warhamha waafihi wafuanha.

Bogor, Hujan, dan Rindu

Tidak ada yang lebih romantis dari kombinasi malam dan hujan rintik yang terlihat dari jendela kamar. Suasana yang syahdu, mengingatkan segala luapan emosi dan kesenangan. Namun dibalik kesenangannya, tersimpan sebuah perasaan yang tak kunjung padam; rindu.

Aku rindu masa lalu. Tidak dipungkiri lagi, setiap umat manusia pasti pernah merasakan rindu. Pengalaman memang mungkin tidak bisa terulang, mungkin bisa kembali dirasakan. Namun untuk yang satu itu, sudah pasti tak akan terulang.

Hangat dan sentuhan lembutnya begitu masih terasa. Di balik selimut ini, aku menuliskan suatu kerinduan yang sangat terpendam. Tak terkecuali, dengan segala upaya, segala kemampuan terbaik, segala rasa yang mungkin tak pernah bisa kembali.

Aku kangen, keluarga.

Semoga kalian baik-baik saja.

Bill Gates vs You

“Bill Gates aja yang drop out bisa tuh jadi kaya raya dan sukses gitu. Ngapain lu kuliah lama-lama sampai S3 gitu?”

You do know the real story behind him dropping out, right?

He was way too smart for college, and had been working on computers since high school… for hours on end. He had already gained the skills he needed before college, and didn’t even need college. Basically, Bill Gates works harder than me. So I need to take PhD Degree at least to equal him as a computer programmer.

I am (Flash) Back!

Ini lebaran ke… (bahkan gue lupa) gue jomblo dan tetap ditanya sama sodara-sodara “kapan nikah?”

Anyway, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H! Mohon maaf tulisan gue di blog ini kadang ngawur, inappropriate words and content, dan kata orang-orang sih banyak yang bilang kaga bermutu karena menyajikan tulisan yang bikin gadis belia teriak histeris seperti sedang melihat artis Korea Kim Jong Un sama halnya jika anak puber SMP membacanya bersama teman-teman saat waktu istirahat dan kabur dari sekolah kemudian menikah muda bersama om-om tajir dan bersedia menjadi istri simpanan.

Nah kan beneran kaga bermutu.

***

Gaya menulis gue sangat berubah semenjak SMA sampai sekarang akan menginjak jenjang S3. Damn you, time! Kenapa cepet banget waktu berjalan? Jenjang yang harusnya semakin serius tapi orangnya nggak serius juga. Mungkin kalau aku udah siap, pasti datang kok ke bapak kamu untuk ngomongin masa depan kita. Aku yakin kita bakal bisa sampai kakek nenek dan melihat cucu-cucu kita menjomblo sewaktu masa SMA-nya, persis kakeknya. Haha! HAHA! HAHAHA!

Kalo jomblo nya mah tetap. Oke.

Dulu, gue seneng banget bermalam-malam sambil nyalain komputer (PC) di ruang tengah. Dengan internet rumah yang hanya berkuota 1 Gb saja, gue sukses untuk mengangkat blog ini sampai pernah jadi “Blog of the Day” ala WordPress. Hal ini gue bilang jomblo gak ada kerjaan, namun sarat akan prestasi. Tetep ye jomblo, juuust shuuuut up! Hahaha… Seorang teman yang tidak mau disebut kelaminnya ganda berkata langsung kepada gue, “eh Angga, lu bakat nulis lho. Tulisan lu gak bermutu, tapi gue enjoy bacanya. Bahkan cakupan blog lu itu luas, mulai dari serius dan pinter ada (baca ini: Melamin?), sampe yang gak penting dan gak layak untuk dipublish juga ada (baca ini: Celeng dan Celengan)”. Hal ini betul-betul membuat gue bingung sekaligus kagum, karena waktu mengubah semuanya.

dsc00111

Iya dulu gue suka banget kayang.
Sampai sekarang.
Ini yang gak berubah.
2007-2016.

18102008107

Dan tingkah laku gue yang gak berubah.
Kaya foto diatas ini.
Ceritanya diperkosa diri sendiri.
Kan absurd.

Lingkungan gue yang ‘nggilani‘ membuat gue jadi semakin begini. Temen-temen gue (sebut saja Ranggi, Husnul, Om, Damar, Sena, dan lainnya) tergolong manusia ediiannn dan sangat memaknai apa arti memaki orang dan menertawakan cewek yang pacaran tapi cowoknya jelek. HAHAHAHA. Lah kan mulai. Oke fokus, ya begitulah. Angga yang sama namun keadaan yang berbeda. Blog ini saksi sejarah dari perjalanan gue selama 8 tahun ini. Up and Up, karena selalu semuanya gue anggap itu kemajuan.

11813505_10207022938390416_8648321309233870198_n-horz

Ini gue dengan dunia yang serba serius.
Angga yang dulu masih sering ngupil di angkot sekarang udah mau S3.
Angga yang dulu nulisnya masih acak-acakan bahkan fals sekarang udah punya 2 publikasi jurnal.
Angga yang dulu nafasnya pake hidung sekarang udah pake trakea.
LAH EMANG GUE SERANGGA.

***

Btw gue dulu emang sering ngupil di angkot. Oke abaikan.

Dunia blog bahkan udah seperti nyawa bagi gue. Setiap ada kejadian seru, gue tulis di blog. Bahkan gue pernah lupa pernah nulis tulisan itu saking dulu gak ada kerjaannya. Orang-orang pada keluar rumah saat diusir orang tuanya karena ngompol sambil boker di kasur, eh gue malah nulis di blog. Kan goblog. Anak-anak seumuran Aurel Hermansyah sekarang dandan, jaman gue dulu bahkan ngeliat bedak aja takut diseruduk (itu badak kakaknyaaa). Anak-anak SMA sekarang doyannya galau sama pacarnya terus berantem di toilet sekolah, tapi gue nongkrong di toilet untuk ibadah boker. Orang tua gue harus bangga, anaknya boker tetap pada tempatnya dan tidak terpengaruh globalisasi.

Dari jaman style rambut Andhika Kangen Band seperti hordeng, sampai Valak yang akan tobat dan memakai cadar.

This is me, Angga Dwinovantyo. And I am (flash) back!

10991073_10205742223093334_4891633094814219546_n