Bogor, Hujan, dan Rindu

Tidak ada yang lebih romantis dari kombinasi malam dan hujan rintik yang terlihat dari jendela kamar. Suasana yang syahdu, mengingatkan segala luapan emosi dan kesenangan. Namun dibalik kesenangannya, tersimpan sebuah perasaan yang tak kunjung padam; rindu.

Aku rindu masa lalu. Tidak dipungkiri lagi, setiap umat manusia pasti pernah merasakan rindu. Pengalaman memang mungkin tidak bisa terulang, mungkin bisa kembali dirasakan. Namun untuk yang satu itu, sudah pasti tak akan terulang.

Hangat dan sentuhan lembutnya begitu masih terasa. Di balik selimut ini, aku menuliskan suatu kerinduan yang sangat terpendam. Tak terkecuali, dengan segala upaya, segala kemampuan terbaik, segala rasa yang mungkin tak pernah bisa kembali.

Aku kangen, keluarga.

Semoga kalian baik-baik saja.

Bill Gates vs You

“Bill Gates aja yang drop out bisa tuh jadi kaya raya dan sukses gitu. Ngapain lu kuliah lama-lama sampai S3 gitu?”

You do know the real story behind him dropping out, right?

He was way too smart for college, and had been working on computers since high school… for hours on end. He had already gained the skills he needed before college, and didn’t even need college. Basically, Bill Gates works harder than me. So I need to take PhD Degree at least to equal him as a computer programmer.

I am (Flash) Back!

Ini lebaran ke… (bahkan gue lupa) gue jomblo dan tetap ditanya sama sodara-sodara “kapan nikah?”

Anyway, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H! Mohon maaf tulisan gue di blog ini kadang ngawur, inappropriate words and content, dan kata orang-orang sih banyak yang bilang kaga bermutu karena menyajikan tulisan yang bikin gadis belia teriak histeris seperti sedang melihat artis Korea Kim Jong Un sama halnya jika anak puber SMP membacanya bersama teman-teman saat waktu istirahat dan kabur dari sekolah kemudian menikah muda bersama om-om tajir dan bersedia menjadi istri simpanan.

Nah kan beneran kaga bermutu.

***

Gaya menulis gue sangat berubah semenjak SMA sampai sekarang akan menginjak jenjang S3. Damn you, time! Kenapa cepet banget waktu berjalan? Jenjang yang harusnya semakin serius tapi orangnya nggak serius juga. Mungkin kalau aku udah siap, pasti datang kok ke bapak kamu untuk ngomongin masa depan kita. Aku yakin kita bakal bisa sampai kakek nenek dan melihat cucu-cucu kita menjomblo sewaktu masa SMA-nya, persis kakeknya. Haha! HAHA! HAHAHA!

Kalo jomblo nya mah tetap. Oke.

Dulu, gue seneng banget bermalam-malam sambil nyalain komputer (PC) di ruang tengah. Dengan internet rumah yang hanya berkuota 1 Gb saja, gue sukses untuk mengangkat blog ini sampai pernah jadi “Blog of the Day” ala WordPress. Hal ini gue bilang jomblo gak ada kerjaan, namun sarat akan prestasi. Tetep ye jomblo, juuust shuuuut up! Hahaha… Seorang teman yang tidak mau disebut kelaminnya ganda berkata langsung kepada gue, “eh Angga, lu bakat nulis lho. Tulisan lu gak bermutu, tapi gue enjoy bacanya. Bahkan cakupan blog lu itu luas, mulai dari serius dan pinter ada (baca ini: Melamin?), sampe yang gak penting dan gak layak untuk dipublish juga ada (baca ini: Celeng dan Celengan)”. Hal ini betul-betul membuat gue bingung sekaligus kagum, karena waktu mengubah semuanya.

dsc00111

Iya dulu gue suka banget kayang.
Sampai sekarang.
Ini yang gak berubah.
2007-2016.

18102008107

Dan tingkah laku gue yang gak berubah.
Kaya foto diatas ini.
Ceritanya diperkosa diri sendiri.
Kan absurd.

Lingkungan gue yang ‘nggilani‘ membuat gue jadi semakin begini. Temen-temen gue (sebut saja Ranggi, Husnul, Om, Damar, Sena, dan lainnya) tergolong manusia ediiannn dan sangat memaknai apa arti memaki orang dan menertawakan cewek yang pacaran tapi cowoknya jelek. HAHAHAHA. Lah kan mulai. Oke fokus, ya begitulah. Angga yang sama namun keadaan yang berbeda. Blog ini saksi sejarah dari perjalanan gue selama 8 tahun ini. Up and Up, karena selalu semuanya gue anggap itu kemajuan.

11813505_10207022938390416_8648321309233870198_n-horz

Ini gue dengan dunia yang serba serius.
Angga yang dulu masih sering ngupil di angkot sekarang udah mau S3.
Angga yang dulu nulisnya masih acak-acakan bahkan fals sekarang udah punya 2 publikasi jurnal.
Angga yang dulu nafasnya pake hidung sekarang udah pake trakea.
LAH EMANG GUE SERANGGA.

***

Btw gue dulu emang sering ngupil di angkot. Oke abaikan.

Dunia blog bahkan udah seperti nyawa bagi gue. Setiap ada kejadian seru, gue tulis di blog. Bahkan gue pernah lupa pernah nulis tulisan itu saking dulu gak ada kerjaannya. Orang-orang pada keluar rumah saat diusir orang tuanya karena ngompol sambil boker di kasur, eh gue malah nulis di blog. Kan goblog. Anak-anak seumuran Aurel Hermansyah sekarang dandan, jaman gue dulu bahkan ngeliat bedak aja takut diseruduk (itu badak kakaknyaaa). Anak-anak SMA sekarang doyannya galau sama pacarnya terus berantem di toilet sekolah, tapi gue nongkrong di toilet untuk ibadah boker. Orang tua gue harus bangga, anaknya boker tetap pada tempatnya dan tidak terpengaruh globalisasi.

Dari jaman style rambut Andhika Kangen Band seperti hordeng, sampai Valak yang akan tobat dan memakai cadar.

This is me, Angga Dwinovantyo. And I am (flash) back!

10991073_10205742223093334_4891633094814219546_n

 

Pergeseran Makna

For me, sending text to everyone relatives and colleagues in this special Eid Fitr are must. Lebaran gak sekedar minta maaf dan ucapan semata. Lebih dari itu.

Kadang kita lihat, teman atau kolega kita mengucapkan selamat lebaran di grup Whatsapp, Line, atau BBM. Teman tersebut sepertinya sudah sulit untuk ditemui secara langsung, entah karena pekerjaan, atau kuliah di tempat yang jauh dari kita. Namun teman kita itu tidak mengirimkan ucapan langsung kepada kita. Solusinya? Kita sajalah yang meminta maaf. Yang terpenting, niat tulus dari dalam hati.

This exchange of greetings is a cultural tradition, and not part of any religious obligation. 

Ucapan permintaan maaf yang tulus dari hati, berupaya memaafkan segala kesalahan dimasa lalu. Idul Fitri bermakna kembali ke fitrahNya.

Kita lahir seperti kertas putih, bersih. Selama perjalanan hidup, pasti akan ada berbagai warna tinta yang membasahi kertas putih itu. Ada yang hitam, kuning, biru, dan ada juga yang merah, anggap warna ini kemarahan. Tinggal kita bagaimana menyikapinya, akankah kita lihat warna merah terus, atau melihat yang lain, yang lebih indah, berwarna-warni.

Idul Fitri, adalah kemenangan dariNya.

Idul Fitri 1437 H


Lebaran kali ini di rumah hanya bersisa dua orang disebelah kiri. Benar-benar sepi. Foto ini diambil 4 tahun yang lalu, saat Idul Fitri juga.

Anyway, selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf apabila saya punya kesalahan kepada rekans Facebook semua baik dalam status yang menyinggung, ataupun perkataan yang tidak sengaja tertulis. Selamat berkumpul juga dengan keluarga. I’m not jealous, but seriously manfaatkan waktu berharga kalian bersama keluarga. Take (a lot) pictures. Kelak, pada saatnya nanti, akan tiba rasa kangen dan setetes air mata pada momen-momen ini khususnya saat takbiran dan shalat Ied nanti. Love what you have, before life teaches you to love what you lost.

Orang Bogor yang Sangat Bogor

Dari lahir sampai sekarang (kira-kira 24 tahun), saya selalu berada di Bogor. Kalau lihat CV, mulai dari tempat lahir, TK, SD, SMP, SMK, S1, dan sedang S2 ini semuanyaaaa… di Bogor. Bahkan mungkin akan lebih lama lagi di Bogor. Lama di Bogor bukan berarti saya jago berbahasa Sunda, Bahasa Sunda saya sangat payah! Apalagi Bahasa Jawa, yang katanya sih saya keturuan suku Jawa, entahlah… He he he. Sudah kadung dinaturalisasi oleh Bogor 😄 Hal ini dikarenakan lingkungan yang tidak mendukung berbahasa daerah karena budaya elo-gue sama teman dan berbahasa Indonesia yang baik dengan orang tua dan guru.
Namun, “kelamaan” di Bogor bukan berarti saya nyaman begitu saja berdiam diri disini. Eh menurut saya gak ada lho kota lain yang lebih nyaman selain Bogor, gimana enggak? Setiap pergi ke kota lain aja pasti kalau lagi hujan selalu bilang “kangen Bogor”… Rasanya memang kepengin sekali ke pindah tempat lain, kata orang tua sih buat mencari pengalaman, khususnya pengalaman tempat-tempat lain di Indonesia. Namun kesempatan buat belajar banyak hal, masih di Bogor. 😊
Keinginan ke Liverpool, UK dari dulu memang menggebu-gebu. Selain karena klub favorit saya disana (ya, saya penggila bola), ada hal lain yang menarik saya untuk pergi ke sana. University of Liverpool. Universitas tertua di Britania Raya untuk bidang kelautan. Dosen pembimbing akademik S1 saya di ITK IPB suatu waktu pernah bilang, “bukan sekarang, tapi akan ada waktunya”.
Keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Rencana dari-Nya menginginkan saya untuk pergi mencari pengalaman di tempat-tempat lain… namun di Indonesia. Perlahan, kaki ini berhasil menyentuh tempat lain yang sangat asing bagi saya, sebut saja Sabang, Bitung, Lembeh, Tanjungpinang, Madura, Karimunjawa, dan lainnya. Setahun yang lalu, apalah saya ini, hanya Pulau Jawa dan Pulau Bali saja yang baru dijelajahi. Selebihnya stay di Bogor, Bogor, dan Bogor. Bahkan saya sudah hafal hotspot macet beserta jalan pintas untuk mengatasinya. Ini akibat kelamaan di Bogor 😜
“Bukan sekarang, tapi akan ada waktunya”
Indonesia, tak ada hentinya ku mengucap syukur kepada-Nya karena terlahir ditanahmu yang sangat indah ini. Laut yang bergejolak, seolah menyimpan misteri Ilahi yang masih belum terpecahkan.
Tanah Airku… Indonesia.

13465938_10209336759074487_5381137572083495634_n
***
Essay untuk ‪#‎WeLoveBogor‬
Angga Dwinovantyo, Mahasiswa

Lesson Learned

When something dissapoint you. You just can’t stop thinking about it… All the time it become worse or even can’t get out of your mind. Let me tell you something:

Get over it! Don’t stress over the small things in life. You should be grateful to even be able to do other right things, be alive and healthy. Stay positive.