Perspektif Politik

Hello y’all :)

Postingan kali ini gue agak serius. Maaf banget buat yang sering kemari buat ketawa-ketawi hahaha… Posting ini agak serius dan sedikit keren hehe… Abis gue sebel juga sama berita-berita di TV nih… Emm gimana ya, gue baru aja resmi magang jadi Fotografer di UKM Koran Kampus IPB, which is gue sekarang mencoba hidup dan komentar dari perspektif jurnalis.

Gue jarang komentar tentang politik, karena gue terlanjur males sama rusuh-rusuh rebutan kekuasaan. I will be honest, gue bisa kok ngejelasin sama kalian apa perbedaan sistem pemerintahan Republik, Demokrat, Liberal, atau Konservatif. Gue bukan orang yang apatis, gue punya KTP Indonesia, gue mahasiswa, gue terpelajar, gue ngerti politik, tapi setiap gue denger kata-kata “politik”, selalu keluar dari mulut gue, “Whatever the hell that shit”.

Misalnya dalam suatu kesempatan ada yang ngomongin politik deket gue, di dalam hati selalu keucap, “Ayo Angga, pergi dari orang ini… Lari! Lari!”. Lebih baik gue ngunyah batu dan dengerin lagu Kangen Band daripada ikut larut ngomongin ginian.

Gue udah muak dengan berita di TV yang isinya politik sampah yang ujung-ujungnya rusuh. Hey man kita mau ngebangun negara, apa mau tenar di masyarakat? Toh kalo lu tanyain ke orang-orang daerah juga gak ada yang peduli siapa menteri blablabla, apa program kerjanya, dan lain sebagainya. Kekuasaan? Biar di kenang oleh negara? SAMPAH!!! Negara gak akan mengenang lu kalau lu gak berbuat apa-apa untuk orang lain! Oke, kalau rakyat pinggiran itu apatis sah aja. Tapi, ini negara kan? Kita membangun negara untuk mereka-yang-apatis juga kan?

Gue mau ngebahas tentang reshuffle menteri, yang lagi rame banget di TV sore ini (19/10/2011). Bukan, gue gak mau ngasih iPod Shuffle ke menteri-menteri itu. Gue anak Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, fokus gue selalu tertuju sama satu menteri. Ya, pasti Menteri Kelautan dan Perikanan. Dia itu bagaikan bos bagi gue, karena apa? Segala sesuatu tentang Perikanan dan Kelautan negara Indonesia ada di tangan dia. Oke, gue masih mahasiswa paling junior, tingkat 1. Gue belum masuk fakultas, belum masuk jurusan, gue masih belum layak dibilang sebagai mahasiswa FPIK. Tapi bukan berarti gue gak ngerti apa-apa tentang kelautan. Buat apa gue download (oke gue jujur, bajakan) eBook tentang Marine  Science yang pake bahasa Inggris dan hampir gue cicil baca setiap minggu, cuma untuk bener-bener pahamin bidang gue ini. Tapi kalau ujung-ujungnya jadi gak berguna karena MENTERI yang mengurusi bidang gue aja gak mengerti apa yang gue pelajari. In other word, mereka jadi menteri bukan karena keahliannya.

Gue geli dengan bacaan di suatu media elektronik yang bunyinya kaya gini,

Namun kenyataan justru berkata lain, di internal partai ‘itu’, “A” justru tidak mendapatkan dukungan kuat. Di internal, suara “B” dan “C” justru lebih dominan dari “A”.

“Dia sebenarnya kalah di dalam ‘partai itu’ sendiri. “B” dan “C” masih memiliki posisi tawar yang kuat di ‘partai itu’,” ujar sumber d****com, Selasa (18/10/2011).

Coba deh perhatiin kalimatnya. Jadi partai itu mencalonkan seseorang buat jadi menteri karena KEKUATANNYA!! Gila banget, emang sembarang orang bisa ngurusin laut dan ikan? Buat apa gue belajar bidang ini toh kalau ujungnya orang yang bukan latar belakangnya aja bisa jadi petinggi negeri? No offense, gue bukan mengkritik kebijakan Pak SBY reshuffle Menteri Perikanan dan Kelautan, gue ini debu, kecil banget bagi beliau. Gue juga bukan kritik Pak Fadel Muhammad, gue tau banget dia udah kerja sesuai bidangnya. Keliatan dari pendirian sekolah kelautan di Gorontalo, kerjasama dengan Norwegia yang jago banget masalah kelautan, dan lainnya. Tapi, gue juga bukan mau kritik Pak Tjitjip Sutardjo, Menteri Perikanan dan Kelautan yang baru. Gue belum kenal beliau dan gue berdoa semoga beliau bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Hanya gue heran aja, kenapa Pak SBY gak ngambil Menteri Kelautan dan Perikanan berdasarkan latar pendidikan yang sesuai? Cuma itu aja kok… :)

What I mean is, Indonesian politics has become somewhat of an art form, but a very dirty perverse form of art. It has become about who can find the dirtiest secrets. It has become about who can create the most effective “anti” television ads, drumming up opposition against a candidate and rarely support for themselves. It has become about who can use the current events in order show their opponent as weak. It has become about who can attracts the people to choose them. So, Indonesia’s political climate is not good for Indonesia. This climate demands character bashing instead of issues related discussions. The current political climate forces us to settle on a candidate that we not only do not like, but may not even agree with the majority of his/her ideas. It forces us to choose between two mediocre presidential candidates that very few people in the country can support, but enough people will be content with. It forces people to the middle, and in turn forces Indonesia into mediocrity.

When we choose one person, we must takes their rules, agree or not.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s