A Letter From Indonesia: Cerita Sebuah Harapan

28 Januari 2011.

“Angga, habis magang ini selesai kamu mau nerusin kemana?”

Begitulah kalimat yang pembimbing saya tanyakan sewaktu selesai sidang dalam ujian akhir masa magang ini. Ya, saya telah selesai menyelesaikan tugas akhir saya sebagai ‘anak magang’ di institusi minyak dan gas bumi ini. Pak Syafrizal, seorang peneliti yang menjadi pembimbing saya selama 3 bulan berada di tempat ini. Begitu banyak ilmu dan cerita yang saya peroleh ditempat ini. Suka, karena mereka semua baik terhadap kehadiran sementara saya disini. Duka, berat hati ini karena harus pisah dari orang tua selama 3 bulan lamanya.

Pak Syafrizal, sebagai pembimbing beliau selalu membimbing saya dengan baik. Mulai dari memberi arahan kerja di laboratorium lantai 5 Gedung Proses ini, berbincang-bincang seputar penelitian yang akan kami lakukan, sampai yang paling saya ingat itu: mengizinkan saya pulang ke Bogor karena sangat homesick berada di Jakarta.

Selain itu juga beliau sangat “khawatir” dengan masa depan saya. Ya, waktu itu saya hampir memutuskan untuk bekerja setelah lulus dari Sekolah Analis Kimia ini. Saya akan bekerja. Bekerja sebagai buruh pabrik yang bekerja shift sampai malam. Lembur, Sabtu-Minggu terus bekerja. Itulah yang mengganggu dirinya. Beliau berkata begitu karena ada 1 hal yang beliau yakini, yaitu saya masih memiliki potensi yang masih bisa berkembang dalam dunia penelitian ini.

Khawatir dalam hal yang sangat positif. Beliau tidak ingin masa depan saya hanya menjadi buruh pabrik selamanya. Beliau ingin saya terus melanjutkan studi dalam bidang analisis kimia ini, khususnya setelah saya berhasil menemukan formulasi perhitungan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dalam pengaruh klorin (Cl-) yang tinggi. Beliau ingin saya terus melakukan penelitian.

Maka, sore itu, perbincangan yang serius pun terjadi.

“Angga, saya punya saudara, beliau itu tinggal di Malaysia. Kalau kamu mau kenal ini ambil saja kartu namanya. Beliau adalah Professor di International Islamic University Malaysia. Beliau bernama Irwandi Jaswir, sepupu saya.”

Terima kasih pak.Tapi, apa yang harus saya lakukan? Menelpon sepupu bapak ini? Wah, di luar negeri pak, mahal. He he he”

Coba hubungi beliau lewat surat elektronik. Kamu harus percaya hal ini. Sewaktu lulus dari Teknologi Pangan IPB, Pak Irwandi ini sering mengirim surat ke professor-professor universitas luar untuk menanyakan beasiswa, kesempatan kuliah di luar negeri, dan sebagainya. Nah, siapa tahu, kalau kamu mengikuti caranya, beliau teringat masa lalunya dan memberikan kamu kesempatan kuliah di universitasnya yang sekarang.”

Image

Setelah hari itu, tiga hari kemudian saya berpamitan kepada beliau dan seluruh staf  Gedung Proses institusi tempat saya magang itu. Saya kembali ke Bogor. Pikir saya, hanya kembali ke rumah saja dan kembali bertemu teman-teman. Masa-masa menyiksa tak bertemu orang tua telah lewat. Toh pada akhirnya, saya telah selesai mengerjakan tugas saya dengan baik di tempat magang saya itu.

Malam harinya.

Saya terbangun oleh pikiran-pikiran yang mengganggu saya dalam 2 hari belakangan ini. Entah mengapa, tiba-tiba saya ingin mengirimkan surat elektronik kepada Pak Irwandi. Siapa tahu saya mendapatkan kesempatan belajar seperti yang Pak Syafrizal katakan empat hari yang lalu.

Ku nyalakan komputer, ku hubungkan dengan internet, ku buka browser, ku ketikkan alamat, nama email dan password, ku klik ‘tulis surat’, setelah itu tinggal mengetik alamat email. Saya cari kartu nama itu, agak sulit karena gelap, dan… ketemu, lalu saya isi alamat tujuan surat ini.

Ayah saya terbangun, dan menanyakan maksud saya bangun tengah malam ini. Beliau menyarankan saya untuk tidur terlebih dahulu, dan berjanji akan membantu saya menulis surat elektronik ini pada esok hari.

***

Rabu, 2 Februari 2011.

Kutulis surat seperti gambar dibawah ini….

Image

Surat pun terkirim. Ada perasaan takut salah dengan surat itu. Apakah isinya terlalu to the point atau terlalu basa-basi. Entahlah, saya hanya ingin mengirimkan surat itu kepada Pak Irwandi. Hanya berharap beliau membaca surat itu ditengah kesibukannya sebagai Professor. Masalah kesempatan kuliah di luar negeri atau tidak, itu urusan lain.

Setelah mengirim surat itu, saya tidak memikirkan sama sekali ingin bekerja. Sangat malas untuk membayangkan kerja keras dengan upah yang tidak sebanding dengan keringat. Saya sangat membenci hal seperti ini. Hak yang diterima tidak sesuai. Saya takut kalau kejadian ayah saya terulang lagi. Beliau nyaris saja menjadi sarjana, andaikan waktu masa tahun terakhirnya kuliah dilanjutkan. Dan hingga saat ini, beliau terus saja bekerja dengan keras, dan menerima upah yang tidak sebanding dengan kerja kerasnya.

Saya ingin menjadi sarjana.

Hari demi hari, saya terus berharap beliau membalas surat elektronik saya. Pak Syafrizal sesekali SMS saya menanyakan kabar dan rencana apa yang ingin saya ambil selanjutnya. Entahlah, tapi saya telah mencoba mendaftar kuliah melalui SNMPTN Undangan ke IPB, tempat ayah saya gagal memperoleh gelar sarjananya. Selain itu, saya mencoba apply beasiswa di luar negeri. Ada satu universitas yang menerima saya di Amerika sana. Tetapi saya harus membayar kira-kira $4000 per-tahunnya. Hanya uang kuliah (tuition fee). Itu sudah termasuk potongan beasiswa yang saya peroleh.

Saya tidak membicarakan hal itu pada orang tua saya, toh saya tahu kalau mereka sudah pasti tidak mampu untuk membayar kuliah dan biaya hidup saya disana. Saya hanya berharap pada 2 kesempatan saya, yaitu diterima SNMPTN Undangan oleh IPB atau diberikan kesempatan kuliah oleh Pak Irwandi Jaswir di universitasnya.

***

28 Mei 2011.

Saya diterima di IPB. Kegembiraan tampak di wajah ibu saya. Cita-citanya sederhana, hanya ingin melihat anaknya menjadi sarjana di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dari sini saya mempercayai bahwa bahagia itu sederhana. Dengan melihat orang tua kita “menangis” akibat tindakan kita yang membuatnya terharu sampai menitikkan air mata saja, sudah membuat saya bahagia.

Saya melanjutkan kuliah, kembali harus meninggalkan kedua orang tua untuk tinggal (wajib) di Asrama TPB. Walaupun kali ini “ujian untuk tidak bertemu orang tua” lebih ringan, karena hanya berjarak 20 km dari orang tua, tidak seperti saat magang di Jakarta.

***

Rabu, 11 April 2012

Saya sedang ujian tengah semester genap. Sudah tidak begitu berharap surat elektronik yang saya kirim lebih dari setahun lalu dibalas oleh Pak Irwandi. Saya sudah memakluminya, karena kesibukannya mungkin beliau tidak sempat melihat email saya. Entah tertimbun diantara surat-surat elektronik milik beliau lainnya atau perasaan yang dahulu saya rasakan yaitu ada yang salah dengan isi surat saya. Saya sudah ikhlas menjalani semua rencana yang Allah berikan. Toh kalau dibalas dan tidak mendapatkan kesempatan belajar disana, saya sudah mendapatkan rencana terbaik yang Allah berikan, kuliah di IPB.

Tiba-tiba telepon saya berbunyi, dan lampu LED dari handphone berwarna kuning. Oh email, saya pikir. Ah paling dari blog ini, he he he.

Saya kaget. Pengirimnya adalah IRWANDI. Saya berusaha berfikir dengan tenang, ah tapi emosi mengalahkan pikiran saya. Yang benar ini Pak Irwandi Jaswir membalas surat saya? Ah rasanya saya senang sekali. Bukan hanya dibalas, “yeah thanks for this email”, atau “I’m sorry late to reply this email, I’m busy” tetapi beliau membalasnya seperti ini…

Image

Ya, memang tidak ada beasiswa untuk pendidikan setingkat Strata-1, artinya tidak ada kesempatan untuk saya bersekolah di luar negeri sekarang ini. Hanya ada ‘janji’ yang beliau berikan, asalkan nilai yang saya dapatkan bagus, bukan tidak mungkin ada kesempatan lainnya. Ya, saya hanya bisa berjuang kali ini ditempat ini, Institut Pertanian Bogor.

Kemudian saya membalas surat elektronik itu…

Image

Dan mungkin, email itu tidak terbaca kembali, sampai suatu saat beliau ‘menemukannya’ lagi diantara email-email beliau yang lain he he he..

Begitulah pengalaman “A Letter From Indonesia” versi Angga Dwinovantyo, yang sengaja saya tulis di blog ini agar nanti, suatu saat, entah kapan itu, ketika saya melanjutkan kuliah di luar negeri, saya dapat membaca tulisan ini kembali. Dan sebagai bukti bahwa saya telah berjuang untuk mendapatkan cita-cita kuliah di luar negeri dari dahulu. He he he

Selamat bermimpi, berjuang, dan menjadikan mimpi itu nyata, le friends! YNWA!!

7 thoughts on “A Letter From Indonesia: Cerita Sebuah Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s