Sehari Menjadi Ajudan Pak Herry, Rektor IPB

Hallo Assalamualaikum 20 Juni 2012.

Sebelumnya, saya mau ngucapin “Selamat Ulang Tahun yang ke-52 buat Mama, Noni Rustinawati”, wanita terbaik yang diciptakan oleh Allah. Semoga panjang umur ma, sehat terus dan bisa sembuh dari semua penyakit komplikasi mama :)

***

Angga, besok ikut ya Umi ama kak Efi mau 
wawancara pak rektor jam setengah 9 oke...

SMS dari Umi Trimukti, reporter Koran Kampus IPB pada malam hari. Wawancara Pak Rektor? Yang ada dipikirku cuma satu, bakal ngobrol dengan orang nomor satu di kampus ini! Hahaha! Tapi ada hal yang lumayan bikin otak ini bingung, besok kan ultah mama, apa lebih baik diam di rumah dan memberi surprise yang udah kurencanakan jauh-jauh hari bersama adikku Tasya.

Rencana adalah rencana, aku masih punya waktu 16 jam buat eksekusi rencana itu. Wawancara Pak Herry, ah paling cuma 1 jam. Lagipula semua fotografer korpus yang lain tidak ada yang bisa. Aku sajalah yang motret, lagipula, aku kepingin sekali bertemu dengan orang yang selalu aku bilang “Papih” ke teman-temanku. Hehehe cuma iseng, aku sering ubah namaku menjadi Angga Dwisuhardiyantyo, plesetan dari nama Pak Herry Suhardiyanto. Hahaha tapi papaku masih Pak Agus kok :p

***

Menunggu sampai dikira resepsionis.

Pukul 08.00 aku sampai di rektorat, setelah perjalanan dari rumah yang kira-kira berjarak 20 kilometer jauhnya. Hal itulah yang mendorongku untuk “ngekost” di Perumahan Dosen. Daripada bulak-balik, capek! Setelah menunggu kira-kira 5 menit, Umi datang disusul Efi. Kita menuju ke ruangan Pak Herry buat bertemu Pak Bonny, Sekretaris Eksekutif IPB. Memang Pak Bonny lah yang mengurus seluruh jadwal Pak Rektor yang memang sangat padat itu.

“Oh pak Bonny lagi ada di ruang rapat, tunggu bentar lagi aja deh,” celetuk Efi yang melihat Pak Bonny sedang mengobrol dengan seseorang. Kita semua menuju ruang tunggu yang berada diseberang ruang Rektor. Aku mengotak-ngatik komputer yang berada disitu, Umi membuka-buka catatannya, sementara Efi duduk di meja yang lebar sekali dan mengeluarkan lembar-lembar berisi rumus-rumus statistika. Ya, Efi masih ujian. Karena Efi adalah kaka tingkat saya dan Umi, sehingga dia belum selesai ujian.

Tiba-tiba beberapa orang berdatangan dan sepertinya bukan pegawai Rektorat ini, dan menanyakan ruangan-ruangan ke Efi, yang berada di meja itu. Efi jawab sepengetahuannya, sementara saya dan Umi menahan tawa. “Mbak Evi, kaya resepsionis duduk disitu, hahaha…” kata Umi.

***

Kertas Berisi Jadwal Pak Rektor dan diundang MoU

Setelah menunggu hingga jam 10, akhirnya mobil berplat F 1 PB itu parkir di tempat biasa aku melihatnya. Kadang aku berandai-andai kalau nanti punya plat nomor yang mirip dengan pak Rektor, seperti F 1 IPB gitu hehehe… Kita langsung menemui Pak Bonny, dan dipersilakan masuk ke dalam ruangan Rektor itu. “Pak Herry baru dari Baranangsiang, IICC (IPB International Convention Center). Lihat ini jadwalnya dari pagi sekali, padat.”

Kami hanya mengangguk, wah beda sekali dengan saya yang baru lulus Tingkat Persiapan Bersama dan hari ini jadwal sangat kosong, kecuali memberi surprise ke mama nanti. Hehehe… “Kayaknya belum bisa diwawancara, lihat ini padat sekali bukan? Jam 11 nanti harus menemui orang Jepang.”

“Yaaaah, gimana ini, masa rencana motret Pak Herry (yang juga merupakan tugas utamaku untuk koran edisi mahasiswa baru) ini gagal? Gimana ya?” pikirku dalam hati.

“Kalian ikut saja acara MoU (Memorandum of Understanding) ini dulu, mahasiswa harus tau dong acara yang seperti ini. Hayuk ikut,” kata Pak Bonny. “Emang boleh pak?” tanyaku sambil gemeteran. Ikut pertemuan penting semacam ini? Gilak! Keren parah! Hahaha

“Siapa yang melarang? Saya yang mengundang kok,” jawab Pak Bonny sambil melihat kembali kertas-kertas berisi jadwal Pak Rektor hari ini.

“Ini kayak mimpi,” omongku dalam hati.

Acara itu pun dihadiri Dekan-dekan semua Fakultas di IPB. Aku melirik ke Bapak berbaju Biru yang berdiri di dekat Pak Rektor. Ah, Pak Indra Jaya, calon dosenku di Ilmu dan Teknologi Kelautan nanti. Beliau sekarang menjabat sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB.

Aku sibuk memotret-motret acara itu, sambil menyelipkan handphone dalam saku bajuku yang sudah aku set sambil merekam suara. Umi mengeluarkan catatannya, begitupun Efi. Cuma bedanya Efi kali ini sambil mengeluarkan slide dan buku tebal. Sambil belajar buat ujian ternyata. Hahaha

***

MoU jilid 2 dan Jadi Fotografer Pribadi

Selesai bertemu orang dari Jepang itu, kami menghampiri Pak Bonny buat menanyakan jadwal Pak Rektor kembali. Ah ternyata pukul 13.30, Pak Herry belum shalat. Memang Rektor yang sempurna pikirku, ditengah jadwalnya yang sibuk tetap ibadah yang paling utama. Sekalipun itu ditunggu tamu dari Malaysia yang sudah datang untuk MoU kedua, pada hari itu.

Aku lari ke lantai bawah, ke mushala, Shalat Dzuhur. Karena Pak Herry shalat di ruangannya. Setelah selesai shalat, kami menemui Pak Bonny lagi, kata pak Bonny, “Ikut acaranya lagi ya? Sangat mepet waktunya. Takut kalian terburu-buru wawancaranya.” “Makan siang dulu saja, ayo ikut saya.” kata Pak Bonny sambil berjalan menuju tempat makanan. “Wiiih alhamdulillah, belum makan dari pagi.” celetukku kepada Umi dan Efi. Kemudian kami bertemu dengan Pak Wiwid, protokoler IPB dan kami dipersilakan makan di Sekretariat Rektorat. Nah, papaku kebetulan kenal dengan Pak Wiwid ini, kata papa beliau yang pernah beli motor RX-King jaman dulu punya papa. “Kalau ketemu pak Wiwid lagi, bilang, saya anaknya Pak Agus. Hehehe” begitu kata papa.

Setelah makan, kami dipersilakan bertemu dengan Pak Herry ke ruangannya. Beliau bilang, “Wawancaranya sore saja ya? Biar enak, wawancara memang enaknya sambil santai.” Lalu aku balas “Iya, pak. Tapi bolehkan saya mengambil foto potrait bapak untuk Profil Rektor di Koran Kampus edisi maba ini?” “Silakan, disini saja ya.” Pak Herry bangun dari tempat duduknya dan mengambil posisi di dekat lemari buku-buku.

“Habis ini, kalian ikut MoU saja lagi ya? Supaya tahu, mahasiswa harus tahu apa itu MoU dan bagaimana prosesnya. Betul gitu kan Pak?” kata Pak Bonny kepada Pak Herry. “Ya, ikut saja. setelah acara mungkin bisa langsung wawancaranya.”

Kami mengiyakan, daripada harus nunggu lagi ditempat “resepsionis” seperti tadi pagi? Hehehe Oh iya, Efi sudah pergi karena dia ujiannya jam setengah 2 tadi sehabis makan. Kemudian Umi menelpon Nadia Azka, teman seangkatan kami yang berprofesi sebagai reporter korpus juga.

Acara MoU kali ini kedatangan tamu dari negeri seberang, Malaysia. Tepatnya dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA). Seperti biasa, aku memotret selama acara berlangsung.

***

Akhirnya Wawancara

Setelah selesai MoU, Efi udah kembali lagi dari ujiannya. Cuma 3 nomor, katanya. Mungkin kalau saya yang mengerjakan, 3 nomor itu pasti pusing banget. Wong Kalkulus 1 aja aku dapet nilai cuma C, susah! Apalagi ini yang jurusannya statistik hahaha

Beres acara itu, Pak Rektor menghampiri kami dan bilang “Nah, sekarang baru sempat wawancara.” sambil tersenyum ke arah kami berempat. Mungkin aku menebak-nebak apa yang ada di pikiran Pak Rektor, ada ya gitu mahasiswanya yang bela-belain menunggu dari pagi tadi sampai ikut semua acara MoU, jamuan makan siang, untuk wawancara saya. Pikirku dalam hati sambil senyum-senyum. Tak apa, yang penting bisa wawancara! Hehehe

***

Semua mengajukan pertanyaan terkait profil Pak Herry, Rektor IPB ini. Saya pun terharu, begitu bangganya beliau bisa kuliah ditempat ini waktu jaman dahulu. Tersirat dimata beliau, betapa hormatnya beliau dengan ayahanda (alm.) beliau yang mengajarkan arti kesederhanaan. Ayahanda Pak Herry adalah seorang guru. Kemudian aku memberi pertanyaan, “Bapak kan lahir dalam lingkungan keluarga guru karena Ayahnya bapak seorang guru, apa atas dasar itu pak, bapak memilih menjadi Dosen?” Beliau menjawab, “Ya, itu salah satunya.”

Ah aku langsung teringat kepada darimana aku dilahirkan dan lingkungan yang membesarkanku: Guru. Papa adalah pegawai IPB yang merangkap sebagai guru STM Otomotif, dan Mama adalah guru SD. Aku besar dalam turunan Guru, Uwa, Nenek, Buyut, semuanya guru. Terbesit angan-anganku untuk menjadi Dosen IPB, suatu saat nanti. Hanya itu yang aku mau nanti, walaupun perjuangan sampai ke titik itu masih jauh. Pembaca, doakan saya ya supaya bisa menjadi Dosen IPB nanti! Hehehe

***

Kembali diajak Pak Bonny ke Acara Pak Rektor

Setelah selesai wawancara, kami berterima kasih kepada Pak Herry. Kemudian kami keluar ruangan dan menemui Pak Bonny untuk mengucapkan terima kasih kembali dan minta maaf karena merepotkan hehehe… Kemudian Pak Bonny mengajak kami untuk ikut kembali ke acara “Malam apresiasi untuk polisi dalam menagkap pelaku penembakan anggota UKK IPB bulan kemarin.”

Ah kebetulan, aku kan yang meliput kasus itu waktu kejadian terjadi. Sekalian deh, seharian ini jadi Ajudan dan Fotografer Pak Herry. Hehehe pengalaman yang tak terlupakan!

Acara malam apresiasi itu berlangsung di IPB International Convention Center, Botani Square. Yap, karena Efi masih ujian, jadi perannya digantikan oleh Pristy.

Kita ketemu Pak Bonny lagi, bilang terima kasih udah diundang kemari. Karena bagi kami, inilah pertama kalinya hadir di tempat yang anak-anak IPB sebut “Tempat Keren di Kota” hahaha iya, kampus kami yang di Dramaga memang jauh dari tempat ini, sehingga rasanya agak sedikit “norak” gitu deeh :D

Oh iya, disini aku ketemu Pak Subagyo, Kepala UKK IPB yang merupakan suami dari temen SMA papa di Jember, Tante Wulan. Tante Wulan dan Papa udah kaya adek-kakak deh, sama-sama berjuang kuliah di IPB dari Jember dengan modal beasiswa. Hahaha hebat pisan! Jadi, tante Wulan ini udah kaya Tante kandung sendiri, dan Pak Bagyo itu udah kaya Om sendiri. Hehehe

***

Nah itulah hari paling seru selama bulan ini. Beres semua acara, langsung eksekusi rencana surprise buat mama. Kue ultah dari teteh Fanny, styrofoam bertuliskan “Happy Birthday Mama” buatan Ade Tasya dan kado kecil yang berisikan buku “Ibuk,” karya Ka Iwan Setyawan sudah siap di atas meja. Selamat Ulang Tahun, Mama!

Oh iya, begitu beres semua acara, foto-foto yang tadi langsung dimasuki ke handphone dan… jadi wallpaper. Biar jadi inspirasi terus menerus hehehe… Sekian posting panjang ini, maaf kalau ada salah-salah kata :D

Angga (calon Dosen) dan Pak Rektor IPB hehehe

***

Hidup Jurnalis!!

16 thoughts on “Sehari Menjadi Ajudan Pak Herry, Rektor IPB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s