Ketika Tempe Merubah Nama IPB Menjadi Universitas Dramaga

@opikokip: Ternyata lebih suka menghabiskan waktu untuk mencari2 siapa yang salah daripada menyelamatkan para petani kedelai.

Itulah salah satu tweet dari Kakak tingkat saya di IPB. Ya, kampus pertanian. Kalau kata pak Rektor (yang kemudian Pak Dahlan Iskan tambahkan), “Nasib petani ada ditangan kami, mahasiswa IPB.” Semua orang menyalahkan satu sama lain. Ada yang bilang, ini murni (100%) tanggung jawab IPB! Lha? Kok gitu? Gimana dengan nasib kami, mahasiswa cupu yang baru lulus TPB? Wkwkwk

Omong-omong soal pertanian, aslinya gue kaga begitu ngerti gimana ngatasin masalah pertanian Indonesia ini hahahaha… Abis ketika mikir “Kita harus swasembada beras! Gak boleh ada ekspor! Beras petani kita hanya untuk Rakyat Indonesia!” di dalam pelajaran Pengantar Ilmu Pertanian (PIP) di tingkat 1 kemarin, eh ada lagi teori lain berdasarkan Ekonomi.

Setelah itu, gue mempelajari Ekonomi Umum mengenai ekspor impor dan kebijakan nasional seperti Penyimpanan Beras di Bulog dan lainnya, dengan kurva permintaan penawaran yang ada SK dan SP-nya, pelajaran yang diperoleh dari PIP tadi rasanya sulit untuk diterapkan. Kaga ada ekspor? Ah nanti gimana grafiknya. Kurva penawarannya gimana? Ah gimana atuh pusing wkwkwk…

Bentar! Bentar dulu! Daripada kalian pusing, dan gue juga udah mulai mau pingsan karena bahas ginian, lebih baik gak diterusin lagi deh bahasannya hahaha *kemudian pingsan*

Masalah pertanian emang sulit, itu kata dosen PIP gue. Karena pertanian itu nggak seperti barang elektronik yang bisa disimpan berhari-hari atau berbulan-bulan. Tapi harus cepat terjual, dan mulai produksi lagi. Masalah “Ketahanan Pangan” selalu jadi momok dan seluruh Rakyat Indonesia pasti selalu bilang, “Gimana sih ini Anak IPB! Katanya kampus pertanian!”

Well, gue akui, kita memang belum maksimal menolong para Petani Indonesia. Tapi kita udah mencoba kok! Apalagi kakak-kakak alumni pasti ada yang mengabdi jadi petani dan menerapkan ilmu yang diperoleh di IPB. Walaupun ya, banyak juga yang jadi Pegawai Bank hehe… Tetapi apa semua anak IPB ngerti tanam-memanam?

Gue adalah mahasiswa jurusan kelautan. Gue sebenrenya ngerti masalah kesulitan kedelai ini, karena gue doyan baca koran! Hahaha, Tapi kalau dihubung-hubungin dengan bidang jurusan gue ini, menanam kedelai sambil diving di laut? Trus ketemu ikan-ikan yang bilang, “Hey! Ada orang gila! Ada orang gila! Save your life! AAAAAAA…” Memang sih, gue bertugas membantu “petani lain” (dalam hal ini, pertanian memiliki arti yang luas. Dan “petani lain” ini adalah Nelayan). Tapi kebayang kan kalo gue nanem pohon sambil gaya katak -___-

Apa kabar dengan Jurusan Ilmu Komputer, Statistik, Ekonomi, dan yang lain-lainnya? Yang nggak fokus belajar di bidang pertanian seperti yang lainnya.

Gue mulai kesulitan jawab ini dan bertanya, kenapa problem ini jadi momok mengerikan pas gue udah lulus nanti. Pas gue lagi main ke daerah, dan orang tau kalau gue lulusan IPB… Mungkin mereka langsung nanya ke gue, ditanya-tanya mengenai sawahnya yang terserang hama lah! Solusi memperbaiki pengairan sawah lah, dll… Mati gue! Matiiii! *meninggal session Ramadhan* Takut aja nih ya, padahal ngga begitu serem kok. Tinggal bilang aja, “Maaf pak, jurusan saya Kelautan. Saya bisa bantu bapak tapi tidak begitu paham. Mungkin saya akan telpon teman saya yang lebih mengerti.” Beres.

Maka gue berfikir dan berdzikir (azzzeg), kalau Institut Pertanian Bogor itu kayanya harus diganti namanya. Ini ide yang ngasal dan jangan dibawa serius lah, hidup serius amat sih cepet tua loh!

Daripada pusing, udah ini mah FIX! IPB ganti nama menjadi UNIVERSITAS DRAMAGA.

Hahahaha siapa yang kenal Dramaga? Si Dramagalay? Gak akan ada yang tau dan kejadian ditanya-petani-terus-kaga-bisa-jawab itu bisa terhindari. *cerdas Angga! Cerdas!* *kemudian gue diasingkan ke Asrama lagi* -____-

Undra. Begitulah namanya. Universitas Dramaga. Kampusku yang nan jauh di pelosok sana.

*brb ikut SNMPTN lagi ke UBB (Universitas Belakang Botanisquare).

:D

Note: posting ini hanyalah heureuy, dikala riweuhnya orang-orang yang kangen akan kehadiran Tempe dan Tahu. Masih bisa bilang, “Cuma makan dengan Tahu Tempe aja?” Gue sih nggak! Apa jadinya jika hidup gue tanpa tahu dan tempe? Bakal kangen kalian wahai tahu tempe :(

20120729-002411.jpg

Tempe goreng ~

8 thoughts on “Ketika Tempe Merubah Nama IPB Menjadi Universitas Dramaga

  1. Uci says:

    Hahaha LOL. Tapi, yah memang tetap kudu melek masalah pertanian Indonesia walau gak fokus ke situ juga sih, risiko jadi mahasiswa kampus yang bawa-bawa nama pertanian. Selera humor yang baik bro! Hidup mahasiswa tanpa status (baru lulus tpb belum masuk departemen) mhehehe

    Like

  2. sepupu gue pernah punya masalah yang mirip-mirip tulisan lu ngga. Jadi dia yang notabene anak KPM saat KKP masyarakat yang tau nya semua anak IPB mengerti tentang pertanian nanya sama sepupu gue tentang masalah yang terjadi di tanah pertanian nya. Guess what? sepupu gue yang ga ngerti banyak tentang pertanian ga bisa jawab dooong. Dan itu yang bikin dia malu seumur kuliah di IPB *katanya. Untung kemudian dibantu menjawab oleh dosen pembimbingnya yang notabene dosen jurusan sosek yang akhirnya sekarang jadi suami nya (kayak dongeng ya? happily ever after :D )
    The point for what i said is : when we accredited as agricultural student no matter our mayor is, maybe we should have known about the problem of agriculture and open our eyes for the problem. Don’t let our mayor course became a barrier to help the farmers. I also working on it lol :D
    Cheers for agriculture students and chemical students! loh? *still don’t forget our past lah ya :p

    Like

    • “no matter our mayor is, maybe we should have known about the problem of agriculture.” <– Setuju parah ka! Tanpa pendidikan atau jurusan-jurusanan juga harusnya kita tau lah ya.. Walaupun bukan anak IPB juga seharusnya sih tau gimana pemecahan masalahnya. :))

      Like

  3. eumm.. kalo menurut aku sih, setidaknya anak ipb itu harus punya yang namanya sense pertanian. Jangan sampe lulusan ipb, tapi kedelai aja nggak tau gimana bentuknya, jagung akarnya tunggang atau serabut, kan kebangetan toh? Terlebih untuk temen-temen yang (ngakunya nih ya) ngehindarin jurusan-jurusan yang berbau pertanian dan lebih condong memilih jurusan yang bebas dari bercocok tanam, hanya karena nggak mau nyangkul. Ini nih pola pikir yang harus segera diubah. Pertanian nggak cuma nyangkul kok. Pertanian bukan sesuatu yang kotor-kotoran kok

    Like

    • Ane tau bang! Ane tau! wkwkwk ih bukan gitu, ane ga bilang ngehindari jurusan berbau pertanian -___- cuma bilang kalo ditanya2 masalah hama lah, trus masalah2 petani yang rasanya tuh spesifik banget, masa iya sotoy asal jawab. Kan “lebih baik bilang tidak tahu daripada sesat”. Hehehe dan setuju lagi: berani kotor itu baik :D

      Like

  4. Putry Nurhidayany SM says:

    heheh..
    keren banget tulisannya..
    bagaimana tanggapan anda mengenai para petani Indonesia sekarang? apa sudah terjamin kualitas kehidupannya??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s