Ospek dan Opini

Another task, coming soon! Yap, masa sebagai Sophomore akan segera dimulai dengan ospek fakultas. Masa yang menurut gue dan temen-temen gue bilang: “masa tanggung”, karena dibilang junior nggak dibilang senior nggak. Bukan junior karena udah kenal lingkungan kampus selama setahun. Bukan senior karena belum layak, karena belum dapat ilmu apa-apa di fakultas, terutama di jurusan.

Bukan cuma di kampus gue aja, seluruh kampus lain juga sama ngadain ospek. Ya cuma bedanya, mereka di tingkat 1 ospeknya. Cuma kampus gue aja yang di tingkat 2. Sebagai perkemalan dari senior, “Selamat datang di Fakultas tercinta” – yang notebene gue udah pernah kuliah di tempat itu hahaha… *trollface*

Agak aneh memang, di luar negeri kayanya gue ngobrol sama dosen yang S2-S3 di luar negeri, gak ada itu ospek. Mungkin, karena disini berat dengan yang namanya predikat “MAHA” di kata Mahasiswa. Toh, disana tetep aja anak kuliahan sama dengan anak sekolah: “Student”. Bukan “Almighty Student” wkwkwk… *ngasal*

Gue sebenernya udah agak bosen dengan ospek mengospek ini, kenapa? Karena waktu SMAKBO, yang ospeknya udah kaya semi-militer selama seminggu kayanya udah ngerasa bukan waktunya lagi gue ikut kaya beginian. Dinov temen gue (yang baru jadi maba tahun ini) aja bilang gitu, apalagi dia udah ngerasain kerja di perusahaan swasta yang lembur itu udah biasa. Dia bilang, “Kok gue males ya? Kaya udah lewat masa-masanya kaya begituan mah hahaha”. Dinop gue rasa orang yang berani, karena rela ninggalin kerjaannya (begitupun temen-temen gue yang lain), untuk mencari ilmu, bukan mencari uang dulu. Bukan juga orang yang datang ke kampus ini cuma buat dibentuk mentalnya, karena kata orang kan

Dunia kerja itu lebih kejam dari dunia kuliah!!!

Lah, dia udah pernah kerja, udah gak perlu lah mentalnya dikuatin lagi? Wkwkwk toh belum tentu yang ngospek tau gimana rasanya “kerasnya dunia kerja itu” :))

Dan, biasanya kalau ga ikut ospek itu selalu dikasih pertanyaan kaya gini :

4 tahun kuliah waktu kosongnya cuma abis buat main game doang karena ga bisa manajemen waktu? Deadline tugas ospek aja lewat!

Nanti di dunia kerja lo akan kaget kalo nggak pernah dimarahi, baru sama senior aja udah takut, apalagi sama bos?!

Situ mau nanti ketika tua dan lagi dongeng ke anak cucu situ gapunya memori yang kuat akan kegiatan kampus, memori yang situ ingat cuma soal belajar, proyek, syalala?

Lu mau ga punya temen di fakultas kalo ga ikut ospek nanti?

Kedewasaan dan keberanian bakal tumbuh sendiri, kehidupan bakal mencicipkan kita asam garam tanpa harus dipaksakan kaya ospek ini. Dan kehidupan otomatis memberi teman, tanpa harus dipaksakan dengan penindasan bersama. Dan mahasiswa Indonesia sering sekali mengartikan ‘belajar, proyek, ngelab, dll’ itu sebagai suatu bentuk keapatisan. Hal yang membuat mahasiswa sekarang tidak punya mimpi untuk menciptakan sesuatu yang berguna – bahkan lebih berguna untuk bangsa .

Yang dipentingkan hanya bagaimana orang memandang mereka, keren, tidak apatis, banyak link agar kerja lebih mudah. Pikir lagi deh, mana yang esensial, dan mana yang tidak esensial.

Cuma opini dari gue, karena tidak bisa komentar lebih hehe saya tidak ikut ospek yang ini karena masih mudik – ospek ini dilakukan H +7 lebaran, masih di kampung halaman. Mau gimana, gue kan nurut orang tua balik ke rumahnya kapan -___-

Segitu aja, maaf apabila ada salah-salah kata. Saya terima kritikan dan kita jadikan diskusi, boleh melalui komen dibawah post ini atau via email anggadwi [at] me.com

Salam,

Angga Dwi
Mahasiswa yang sering dibilang apatis, padahal saya hanya seorang Jurnalis.

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Ospek dan Opini

  1. Haruskah gue ikut beropini?
    Pertama
    Di fakultas gue bahkan beasiswa dijadikan “umpan” supaya banyak peserta ikut yang ospek.
    Kedua
    Jauh sebelum penugasan ospek-yang-sudah-ga-pantas-buat-umur-kita, sebenernya di tingkat satu banyak deadline yang bikin gue belajar managemen waktu. Tugas akademik, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa), asrama, dan kegiatan ekstra.
    Ketiga
    Di tingkat 1 juga sudah ketemu dengan teman satu angkatan di departemen, jg fakultas (beberapa). Lah udah ada Mata Kuliah Departemen.
    Keempat
    Ospek harusnya ada tujuan dan sasaran yang tepat, jangan sampe peserta ga nerima esensi hanya sekedar seremoni. Memperkenalkan fakultas/departemen itu perlu, kalau itu tujuan utamanya maka ga usah tambahin hal yang ga perlu. So, gue tetep ikut acara ospek. Dengan tujuan lebih deket (lagi) dengan temen se-departemen, lebih kenal dengan civitas departemen, tapi ga akan ikutin acara yang ga penting. Inget umur lah, udah males joget-jogetan. :)

    Saya ga pinter berargumen, bisa saja argumen saya ini dipatahkan dengan mudah oleh kalian para non-apatis. Tapi saya lebih senang berdiskusi. :))

    Like

  2. fujisaki eja says:

    saya penentang ospek, selalu
    anehnya, bnyak peserta ospek yg bangga dan senang ikut ospek
    saya kaget, trnyata orang indonesia emang sneng dijajah, dijajah senior
    saya post y tulisan kmu ini di fb saya, please
    mkasih bnyak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s