Salam Hormat Untuk Sahabat, Dede Arianto

Bukannya saya nggak sayang dengan kuliah saya, cuman mau gimana lagi, ini permintaan orang tua. Saya juga harus bantu orang tua. Pengennya sih nunggu dulu sampai lulus baru bantu orang tua.

Sebuah kalimat dari Dede Arianto, sahabat– tetapi kami menyebutnya Keluarga, yang saya dengar pada Sabtu sore (8/12) ini di Pandeglang. Ya, Pandeglang, Banten. Perjalanan sejauh 100 kilometer yang kami tempuh untuk menemui keluarga kami yang satu itu. Dede, biasa kami panggil. Dede yang selalu bercerita dengan saya mengenai plan hidupnya yang luar biasa. Dede tidak ada kabarnya selama 3 minggu. Di SMS tidak dibalas, di telpon eh malah mailbox. Benar-benar hilang. Dan khawatirnya, Dede menghapus keterangan “sedang berkuliah di IPB” di Facebook.

Setelah bertemu sore ini, dia bercerita. Musibah yang menimpa keluarganya, 4 kecelakaan yang dialami Bapaknya membuat Dede harus ‘istirahat’ dari kuliah. Uang habis, rumah dijual, hutang sana-sini untuk pengobatan Bapaknya Dede. Hanya berjarak 1 bulan lagi dari Ujian Akhir Semester, Dede harus cuti. Untuk bekerja dan membatu orang tua, ya, untuk sementara bekerja. Jangan sampai putus kuliah.

Kenapa saya ngga bilang secara langsung disana (Bogor) secara blak-blakan. Intinya ngga mau jadi beban bagi kalian. Ngga mau ngebebanin lah karena teman-teman disana udah punya beban masing-masing.

De, mohon maaf. Maaf sekali. Saya udah menganggap dirimu sebagai keluargaku. Apa yang Dede harus tanggung sekarang ini sudah seharusnya kami mengetahui. Jangan hilang dan menanggung beban sendiri. You’ll Never Walk Alone. Selama ada kami disini, Insya Allah kami akan membantu.

Jadi, menyalahkan siapa? Tuhan? Ah, tak mungkin. Ini rencana terindah Tuhan yang diberikan kepada Dede. Mungkin bagi saya, ini adalah salah satu kurangnya rasa memiliki warganya dari pemerintah Indonesia. Ketika orang tua Dede stop tidak bisa bekerja akibat musibah yang dialami, otomatis tulang punggung keluarga menjadi milik anak-anaknya. Memang, Dede sudah dapat bantuan Beasiswa Bidik Misi, tetapi uang makan dan uang untuk keperluan orang tuanya, bagaimana? Tidak baik menyalahkan, hanya sedikit rasa khawatir dari saya yang dialami oleh warga-warga lain di Indonesia.

Dede, salah satu pahlawan bagi keluarganya, juga contoh yang sempurna untuk menghargai dan mencintai apa arti perjuangan. Maaf buat Dede saya menulis posting ini karena saya sangat salut sama perjuangan Dede. Mungkin untuk saat ini saya tidak bisa membantu keuangan keluarga Dede, karena keadaan kita hampir sama. Tapi ingatlah De, jalan yang berliku ini membuat hidup menjadi berwarna, dan menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat berjuang kawan, 6 bulan lagi kita pasti akan bertemu kembali. Semoga sehat-sehat saja di Tangerang.

Salam hormat dari kami, keluargamu, ITK 48.

One thought on “Salam Hormat Untuk Sahabat, Dede Arianto

  1. Tina Latief says:

    realita kehidupan memang menarik ya mas untuk dituliskan, ada banyak hal yang menarik untuk disampaikan kepada yang lain. Sekiranya orang yang membaca akan tau bahwa kehidupan tidak selamanya lurus-lurus saja :)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s