Kelakuan di Semester 4

Malam yang hujan ini, gue mau mengucapkan selamat datang kembali wahai Angga Dwinovantyo di blog ini! Sudah sangat lama sekali (boros banget kata-katanya -_-) gue ga posting ataupun sekedar cuap-cuap melalui pemikiran-pemikiran absurd yang kalau diturunkan menghasilkan pemikiran bodoh aksen sesuai yang Pak Ali ajarkan di mata kuliah Persamaan Diferensial Biasa…. *kemudian mati*

HALO SEMUA. Ah gila kangen juga gue ga nulis, alasannya? Sudahlah, selama 5 tahun ngeblog alasannya itu-itu saja. Padahal, pacar ga punya, kuliah ga 24 jam, tugas ga setiap hari ada, dan koneksi internet selalu ada. Tapi ada alasan yang selalu menghalangi gue ngeblog. Gausah diceritain disinilah yaaa… Karena terlalu sakral untuk membahas itu, dan mungkin akan terus menjadi draft di daftar posting blog gue ini. Maklum masalah minoritas.

*Nyeruput nutrisari anget*

Well, mahasiswa semester 4! Bagi gue, Fadhli dan Nafar, menjadi mahasiswa semester 4 ini adalah hal yang keren. Gue bisa ngelewatin asrama putri jam 9 malem dan teriak-teriak ke arah para penjaga pintu neraka (baca: asrama) yang bersiap menerkam para “telat-ers kena jam malam” dengan pulpen dan kertas daftar telat yang sangat bodoh itu. “MASIH JAMAN JAM MALEM? HAHAHA” begitulah kira-kira kalimat yang sering kami teriakkan saat sengaja melewati asrama putri ketika menuju kost kami yang letaknya di dalam kampus. Memang terlihat bodoh, tetapi tidak rasional sekali jam malam ini, seakan menyatakan bahwa waktu malam adalah hanya didedikasikan untuk tidur di asrama; — atau belajar. Buat orang seperti gue, malam adalah waktu paling produktif untuk berkreasi. Contohnya ini, ngeblog. Walau ngalor ngidul.

Kelakuan di semester 4 ini seakan membawa gue ke tingkat yang lebih dewasa, walaupun gue belum pernah lihat majalah dewasa. Bagaimana cara menyikapi keadaan ketika kamu berada dalam posisi terkucilkan (atau biasa disebut dengan minoritas; non warga). Perendahan harga diri oleh seorang senior. Hanya karena tidak mengikuti berbagai acara wajib untuk para junior. Semester 4 gue dihadapkan dengan kondisi sangat gila, up and down, serong kiri dan kanan, bahkan gue bisa disebut lebih alay karena galau masalah ini terus di twitter dibanding dengan alay SMP atau SMA yang galau karena cinta. Sampai teman SMA yang kebetulan 1 kampus heran dengan keadaan gue yang seperti kaum separatis kampus, tapi sayangnya gue tidak seperti itu. Kebebasan seperti masa SMA,seakan hilang dengan menghilangnya gue dari blog ini. Ingin bercerita, tapi pada siapa?

Cukup galau-galaunya, karena banyak hal positif yang didapat dari semester ini.

1. Total SKS di IPB hampir mencapai angka 90-an.
Kegilaan gue untuk belajar dan terus belajar seakan mengabaikan umur gue yang sudah hampir menginjak angka kramat “double two” dengan masa belajar hampir 17 tahun. 2 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 4 tahun SMA, dan 2 tahun kuliah. Keinginan untuk sukses dengan balas dendam mendominasi pikiran gue. Gue hanya membutuhkan kurang dari 50 SKS lagi untuk lulus dari kampus ini, kira-kira 1,5 tahun lagi (amin). Entah orang bilang apa tentang pilihan mengambil 25 SKS dalam 1 semester ini, tetapi yang jelas Senin-Jumat gue habiskan dengan kuliah jam 8 pagi sampai 6 sore, dan Sabtu praktikum selam yaitu renang dengan berangkat pukul 6 pagi selesai pukul 4 sore. Belum lagi hari Minggu yang gue habiskan untuk recovery  sehabis selam. Tidak mengeluh, memang harus beginilah adanya. Hanya menggambarkan betapa inginnya gue segera menjadi Insinyur — yang merupakan dambaan setiap anak ketika sang Ibunda dicoba oleh Tuhan dengan berbagai penyakit, agar sang Ibunda bisa segera berfoto dengan anaknya di acara wisudanya.

2. Mengikuti Kepanitiaan
Konon, sebagai anak Korpus sudah sepantasnya kami tidak bisa mengikuti berbagai kepanitiaan akibat berbeda persepsi. Di Korpus, kami bebas berpendapat, berkreasi, mencari ilmu dengan sesuka kita. Kepanitiaan, yang rata-rata hanyalah sebuah retorika belaka, dengan recruitment sebagai babu kelas elite, dimana maksud dan tujuannya hanyalah mencari pengalaman. Selama ini, begitulah yang gue rasakan — entah dengan kalian. Ketika pengalaman sudah cukup mengajari kita, yang ada hanyalah rasa ingin mendapatkan imbalan yang setimpal dari apa yang kita lakukan. Dan kali ini, gue mengikuti kepanitiaan untuk acara seminar dan expo beasiswa terbesar di kampus, dengan tujuan hanyalah ingin mencari kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri. Tidak lebih, tetapi gue harus bekerja dengan sangat berat. Seperti yang gue bilang: imbalan yang setimpal.

3. Ikut Proyek Dosen
Memiliki dosen pembimbing akademik yang bersahabat dan menyenangkan adalah salah satu faktor yang menguatkan gue ditempat ini. Kali ini, gue bersyukur diberikan kesempatan untuk membantu dosen dalam proyeknya, yaitu untuk mendesign poster dengan sebelumnya melakukan penelitian dalam bidang biologi laut (krustase). Inilah yang gue tunggu dari dulu, saat gue sudah kangen dengan laboratorium hahaha dan semoga saja proyek ini berhasil karena gue akan presentasi di seminar Internasional! Woohooo :)

4. Pencarian Beasiswa Ke Luar Negeri – Pertukaran Mahasiswa
Beberapa hari ini, di kosan kami bertiga (Gue, Nafar, dan Fadhli) memang tergila-gila dengan beasiswa pertukaran. Kami memang aneh, karena kami mencari beasiswa dari negara yang tak lazim, seperti beasiswa dari skandinavia ataupun eropa-eropa timur. Sampai sekarang, kami masih terus mencari beasiswa, dengan mempersiapkan berbagai keperluan. Mungkin, semester depan gue akan mengambil SKS yang lebih sedikit dengan tujuan untuk mengikuti TOEFL Core atau persiapan IELTS demi meraih cita-cita kami yang tidak lazim ini hahaha

***

4 untuk 4 hal yang gila.

Angka favorit gue saat SMA, mengajarkan apa arti hidup. Seperti yang teman gue bilang:

“Untuk jadi sukses, tidak selalu harus dicintai oleh seluruh orang. *sambil gambar hati*” – Alexa

Juga seperti yang teman segoblog-goblognya gue,

“Ternyata hidupnya ga sesenang tertawanya, lari dari agresivitas dan perendahan harga diri….” – Ranggi

Gue adalah Angga Dwinovantyo. Keterpurukan masa lalu adalah senjata untuk gue dimasa depan. Tidak peduli betapa idealisnya gue.

THE WAR IS WON
BEFORE IT’S BEGUN

Maaf karena posting ini aneh, menjijikan, dan tak layak dibaca. Hanya luapan emosi yang sangat terpendam. Maaf sekali lagi.

Salam,

*AD* <– semacam SBY ngetweet aja haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s