Fenomena Ospek di Beberapa Kampus Indonesia

Mahasiswa baru. Mahasiswi baru. Satu kata “maha” yang selalu dipakai sebagai acuan dosen kalau kami sedang khilaf, karena pengertian secara bebas dari maha adalah segala sesuatu yang sempurna. Zero tolerance. Status mahasiswa adalah ketika lulus UN, SPMB/SNMPTN/SBMPTN, dan lulus bayaran kuliah. Semua berhak mendapat predikat ini, termasuk mahasiswa baru yang masih beberapa hari berada di kampus ini. Kata lainnya, Maba.

Setiap mahasiswa pasti pernah merasakan sebagai maba. Predikat paling rendah, dibawah dosen > mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus-lulus > senior tingkat 3 > senior tingkat 2 > maba. Status cupu dan culun dan tidak mengerti apa-apa tentang kampus yang akan ditempatinya selama beberapa tahun kedepan. “Masih anak SMA banget”, “Songong”, dan lain sebagainya yang membuat gue muak terhadap kata-kata yang dipakai para mahasiswa lebih tua. Tidak bisa disalahkan memang, karena sebagian besar berpikiran seperti itu. Maka dibentuklah sistem yang namanya Masa Perkenalan, yah bisa dibilang Masa Orientasi bahkan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus / Ospek. Dengan tujuan: biar lo kenal ada apa aja di kampus ini, termasuk keberadaan gue. Kata senior tersebut.

***

Saya adalah mahasiswa yang tidak mau mengikuti semua rangkaian itu. Titik.

Nggak bisa dipungkiri, atau karena Indonesia telah terjajah selama 350 tahun oleh Belanda, budaya senior selalu benar dan apabila senior salah kembali lagi menjadi senior selalu benar. Yah, ospek itu tadi. Tidak ada kaitannya dengan jurusan atau fakultas yang sedang saya jalani, ini hanya penggambaran secara sebagian besar kampus di Indonesia. Tentu ini semua ada data, wawancara, dan dilihat secara empiris. Ospek adalah ajang balas dendam senior. Waktu dulu, saya diperlakukan seperti itu dengan senior, sekarang junior saya juga harus merasakannya. Seperti itulah.

Botak, Item-Putih, Culun, Pita, Tugas bodoh, dan lainnya.

Beberapa hari lalu, saya mengikuti tweet dari mantan artis cilik yang sekarang sudah berubah menjadi artis Liverpool supporter, Joshua Suherman (@jojosuherman) tentang orientasi kampus itu. Ada yang setuju, ada yang nggak. Malah ada yang berkomentar, “Ospek itu harus keras, kejam, dan menantang supaya bisa diceritain ke anak cucu.” Well, ain’t nobody got time for that. Seolah-olah mereka bilang seperti ini:

HIDUP ITU HARUS KUAT MENTAL DEK, KALAU GA KUAT MENDING MATI AJA DEK. SO, KALAU MAU KUAT MENTAL? IKUT OSPEK, MAU DITERIMA DI HIMPUNAN? IKUT OSPEK. – sumber: kaskus

Gue langsung berkomentar ke akun tersebut, “Bukan sebuah achievement lu dipecundangi senior dan diceritain ke anak cucu, shame on you!” dan gue mendapatkan 15 retweet dalam 2 menit. Nak sini deh, papa mau cerita. Dulu waktu papa masih mahasiswa, papa pernah disuruh senior untuk cium ketek temen papa. Sweet ya? Hahaha konyol. Memang, untuk beberapa jurusan harus kuat secara fisik: push up, lari, dan apapun yang membuat tubuh lu kuat. Tetapi tidak dengan penguatan mental dengan cara dimarah-marahi. Hidup itu memang keras, ditambah kerasnya jadi mahasiswa yang jauh dari orang tua, pun dengan Bogor yang macet akibat banyak mall, masih mau dibikin susah dengan senior juga? Oh for God’s sake.

Intinya sih kalau kata gue harus diubah sistem seperti ini. Contoh aja MIT (Massachusetts Institute of Technology). Hari pertama kuliah, dia dikenalin dengan UKM-UKM yang menunjang hidup mereka di kampus. Hari kedua dikasih pengenalan lewat seminar beserta dosen-dosen yang ikut serta. That’s it, gak ada bentakan apalagi tugas bodoh, esensinya memang ada, tapi diluar jalur orientasi kampus itu sendiri. Misal? Kayu bakar 10 cm, yah memang untuk buat api unggun. Roti nanas? Yah memang untuk dimakan, tetapi kenapa harus nanas? ;)

Kenal dengan teman baru? Oh God, alasan sangat klasik. Beberapa teman luar kampus gue malah berkomentar, setelah ospek mereka tidak dekat dengan teman sejurusannya. Lho, bukannya udah deket waktu ospek? Memang waktu ospek dekat, tapi setelah itu seolah menjauh dan masing-masing. Gue langsung berkomentar, itu sih bukan salah lo. Tergantung orangnya sih. Termasuk lu deket apa ngga dengan senior lu. Balik lagi aja ke pribadinya orang tersebut. Membaur dengan senior dan teman seangkatan. Gak kurang ajar, yah kalo kurang ajar sih tergantung orangnya aja.

Maaf sekali lagi kalau ada mahasiswa senior yang tersinggung. Saya sebagai junior tidak ada niat untuk menjelek-jelekkan sistem yang sudah terlanjur ini. Hanya buat tulisan saja, dari seorang junior yang pernah merasakan ospek dan keluar di tengah jalan karena sudah muak akan perlakuan seperti ini.

***
Sama senior takut, sama orang tua berani. Banyak yang kaya gini :p

HIDUP MAHASISWA!

5 thoughts on “Fenomena Ospek di Beberapa Kampus Indonesia

  1. saya pernah ribut sama 1 sekolah gara2 ospek :) jika memang mengenalkan sekolah/kampus itu ok, kalo sudah bentak-bentakan, dll yang katanya melatih mental… itu mah sudah diluar batas.

    Like

  2. Dalam rangka MOS atau Ospek sebetulnya sudah tidak jaman lagi adanya Senioritas dan perploncoan… ini bisa dilihat di salah satu Kampus di bandung yang melakukan MOS atau Ospeknya seperti di Luar Negeri yang biasa di kenal istilahnya FRESHWEEK. bisa dilihat di sini on.fb.me/1nMz6E1

    Like

  3. Saya sependapat dengan anda, beberapa hari lagi saya bakalan ospek. Tapi sedikit tentang pengalaman saya di Pecinta Alam dulu, pendidikan model bentak-bentak memang tidak ada esensinya. Namun ketika saya dan kawan-kawan merubah sistem itu, hampir semua senior dan alumni kontra terhadap langkah kami. Jadi, ya beginilah sistem yang sudah terlanjur itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s