Analisis Giant Sea Wall di Teluk Jakarta

Angga Dwinovantyo
Mahasiswa Semester 7 Ilmu dan Teknologi Kelautan
Institut Pertanian Bogor

giant sea wall
Gambar 1 Desain rencana pembangunan Giant Sea Wall di Teluk Jakarta

     Banjir merupakan masalah utama di wilayah Jakarta, khususnya banjir yang diakibatkan oleh limpasan air laut atau lebih dikenal dengan istilah banjir rob. Banjir ini terutama menggenangi wilayah Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Banjir rob disebabkan oleh permukaan tanah yang turun 15 cm setiap tahunnya, sehingga sangat rentan terhadap bencana pada wilayah pesisir. Apabila hal ini terus terjadi, maka permukaan tanah akan berada dibawah permukaan air laut, sehingga sebagian wilayah di pesisir Jakarta akan tenggelam. Padahal, wilayah Jakarta Utara adalah salah satu wilayah yang padat penduduk. Selain itu, akibat wilayah Jakarta Utara yang padat penduduk membuat eksploitasi air tanah yang melebihi daya dukung air yang tersedia. Hal ini berdampak negatif bagi wilayah pesisir Jakarta, dan diperparah oleh meningkatnya muka air laut akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

     Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah menginvestasikan Rp 200 trilyun untuk membangun tanggul di sepanjang Pantai Jakarta, yaitu di wilayah Kamal Muara, Cilincing, dan Marunda. Tanggul tersebut dibuat dalam mendukung reklamasi pantai untuk mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh banjir rob. Namun tanggu tidak cukup untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh banjir rob. Setidaknya, butuh pembebasan lahan untuk ‘parkir air’ bersih seluas 50 km2 hanya untuk menahan penurunan permukaan tanah, dilengkapi dengan pompa air yang menyedot air laut. Area seluas itu, tentu sangat sulit didapatkan apabila area untuk parkir air itu dibebaskan dari lahan penduduk. Wilayah Jakarta Utara yang padat penduduk sendiri juga kekurangan ruang terbuka. Maka diperlukan solusi lain yang bermanfaat untuk jangka panjang.

     Selain tanggul untuk reklamasi pantai, pemerintah juga menyiapkan program jangka panjang untuk menyelamatkan wilayah pesisir Jakarta. Program tersebut diberi nama National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Proyek telah dimulai sejak tahun 2008 dan diperkirakan selesai pada tahun 2020. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), proyek NCICD tersebut terdiri atas beberapa program, salah satunya adalah membuat tembok besar di laut (Giant Sea Wall) untuk menghindari efek negatif yang disebabkan oleh pengaruh laut. Program ini dinamakan Jakarta Coastal Defense Strategy, yang rencananya membuat tembok raksasa setinggi 6 meter yang terbentang dari Tanjung Burung, Tangerang hingga ke Tanjung Priok, dan dari Tanjung Priok sampai di Muara Gembong, Bekasi.

   Keuntungan dari pembuatan Giant Sea Wall adalah banjir rob bisa dihadang, melindungi pantai utara Jakarta, tersedianya waduk air baku untuk suplai air bersih, dan jalan tol yang menghubungkan Bekasi dan Tangerang tanpa harus melakukan pembebasan lahan di wilayah padat penduduk. Air baku yang tersedia juga memiliki volume yang besar, yaitu 1 milyar m3 air baku.

     Lantas, apa dampak Giant Sea Wall bagi lingkungan? Khususnya bagi biota pesisir, ekosistem terumbu karang, dan sosial ekonomi masyarakat. Bagaimana nelayan kecil mencari ikan, bagaimana pula tambak ikan yang ada di Teluk Jakarta. Kemudian kaitannya dengan sirkulasi air laut, fluks dari 13 sungai besar yang membawa material organik dan anorganik, mengingat sungai tersebut sebagai salah satu sumber utama pencemar logam berat?

1. Analisis Dampak untuk Ekologi
Dampak yang nyata bagi ekologi khususnya pada beberapa ekosistem pesisir adalah alih fungsi lahan. Hal ini akan menimbulkan efek domino dan terjadilah bencana ekologi. Teluk Jakarta terdiri dari ekosistem mangrove, terumbu karang, pesisir, dan lamun. Dengan dibuatnya Giant Sea Wall, maka akan ada reservoir air tawar sebanyak 1 milyar m3 sebagai pengganti air laut. Tentunya hal ini akan menghancurkan seluruh ekosistem yang disebutkan diatas, karena ekosistem tersebut membutuhkan air laut sebagai medium untuk tumbuhnya.

2. Analisis Dampak Oseanografi
Teluk Jakarta merupakan muara dari 13 sungai besar yang berasal dari beberapa kota. Sungai ini membawa material tersuspensi dari proses mengalirnya air dari hulu ke hilir dan aliran sedimen. Material tersuspensi ini akan terbuang ke laut dan apabila terhalangi oleh Giant Sea Wall, maka akan terjadi akumulasi sedimen di Teluk Jakarta. Apabila terus terjadi sedimentasi, maka dikhawatirkan akan menyebabkan tersumbatnya aliran air di mulut sungai, dan terjadilah banjir akibat air yang tumpah ke sisi sungai.

giant sea wall 2

Gambar 2 Sketsa perencanaan reservoir air bersih di dalam Giant Sea Wall

     Selain terjadi akumulasi sedimen, pengaruh yang tidak kalah berbahaya adalah akumulasi logam berat. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pembangunan Giant Sea Wall bertujuan juga untuk menyediakan reservoir air bersih. Namun kenyataannya, kualitas air akan menurun karena air dari masukan sungai akan terus terjadi dan air tersebut membawa kandungan logam berat terlarut seperti Pb, Hg, Cu, dan sebagainya. Akibatnya, terkonsentrasinya limbah dari beberapa sungai tersebut. Apabila ingin terus tersedia air bersih, maka dibutuhkan pencucian air secara kontinu. Dikhawatirkan, Giant Sea Wall hanya menjadi comberan raksasa daripada wadah air baku untuk masyarakat Jakarta.

3. Analisis Dampak Bagi Nelayan
Secara tidak langsung, dengan adanya Giant Sea Wall, nelayan yang beraktivitas disekitar Teluk Jakarta akan kehilangan mata pencahariannya. Saat ini saja, kehidupan mereka semakin sulit akibat dikuranginya subsidi BBM oleh pemerintah, namun hasil tangkapan mereka tidak linear seiring naiknya harga BBM. Selain itu, efektifitas penangkapan ikan oleh nelayan akan berkurang karena nelayan harus melaut jauh dari pantai hingga membutuhkan biaya yang lebih tinggi hanya untuk bahan bakar dan memperparah kesejahteraan nelayan.

   Solusi yang tepat sasaran yaitu dengan membuat kebijakan yang juga mementingkan aspek lingkungan dan dilibatkannya rakyat dalam pembangunan Giant Sea Wall. Pada satu sisi, terciptanya lapangan pekerjaan baru dan rakyat mengetahui maksud dari pembuatan Giant Sea Wall ini. Karena apabila terjalin komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, maka maksud dari pembangunan ini tersampaikan dan tidak terjadi kontra yang berlebihan. Karena proyek ini menurut saya terindikasi hanya melindungi properti mewah yang dibangun di pesisir utara Jakarta. Selaras dengan pernyataan Dosen Teknik Kelautan ITB, Muslim Muin, Ph.D yang mengatakan, “Dampak giant sea wall malah memperparah banjir di Jakarta, merusak lingkungan laut Teluk Jakarta, mempercepat pendangkalan sungai, mengancam sektor perikanan lokal, dan menyebabkan permasalahan sosial.”

Tabel 1 Isu dan dampak yang mungkin terjadi akibat pembangunan Giant Sea Wall

giant sea wall 3

***
Tulisan ini merupakan tugas dari dosen saya pada mata kuliah Sistem Informasi Geografis Kelautan untuk memberikan pandangan mengenai Giant Sea Wall sebagai mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan. Daripada hanya menjadi file usang di harddisk, lebih baik saya share saja, siapa tau membantu.

4 thoughts on “Analisis Giant Sea Wall di Teluk Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s