Yang Terbaik

Sebenarnya gue tidak ingin menceritakan kegalauan lagi, sudah banyak sekali kegalauan pada tahun ini. Yak, karena kamu……. skripsi. Hahaha kadang suka berfikir kenapa senior-senior gue kalau ditanya, “Kapan seminar? Kapan sidang? Kapan kapan kapan?” itu cuma bisa senyum, yah paling bener bilang, “doain aja.” gitu… Eh ternyata gue ngalamin juga ;)

Oh iya, gue sekarang sudah resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Kelautan (S.Ik). Sebenarnya gue ini lulusan Ilmu dan Teknologi Kelautan, tapi teknologi-nya entah kenapa hilang di gelar tersebut. Gue sudah revisi skripsi itu, sudah acc, sudah perbanyakan, tinggal menunggu surat keterangan lulus (SKL) di print; yang seharusnya bisa dikerjakan pada hari itu juga. Tapi ya sudahlah, mungkin kerjaannya petugas fakultas sedang banyak ;) *think positive*

Nah berbicara kehidupan pasca kampus, pasti bakal ada yang kampret lagi nih. Mereka-mereka ini pasti pada bertanya, “Rencana mau terusin atau kerja? Kalau terusin mau dimana? Kalo kerja mau dimana? Kapan dong nikahnya? Mau punya anak berapa? Masih minat jadi pembantu ngga?”

Never ending question. Lelah.

***

Gue punya teori. Pada dasarnya manusia itu terbagi menjadi dua; yang beneran care dan yang cuma mau tau (Dwinovantyo 2015). Gue ngalamin itu pas jamannya skripsian, pasti ada aja yang nanya, “Skripsi lu gimana?” lalu gue jawab “Belum, masih 70%.” Abis itu udah aja. Tapi ada juga yang nanya, “Nanti progress selanjutnya gimana, Ngga? Apa ada yang bisa gue bantu?” Nah ini nih… teman sejati. Gue nemu temen kaya gini ada lah 3 orang, tapi yang sekedar pengen tau, buanyak.

Nah untuk jawaban kehidupan pasca kuliah, gue selalu bilang, “Gak kepikiran mau kerja dulu.”

Itu jawaban dari jamannya gue masih SMA, saat temen-temen gue udah diterima kerja, dan gue masih bimbel di GO. Abis SMA pengen kuliah S1, abis S1 pengen langsung S2. Begitu seterusnya sampai Syahrini jadi macho dan kolaborasi bareng Metallica.

***

Mencari yang terbaik

Bukan berarti gue lari dari tugas utama gue sebagai cowo: mencari nafkah. Ini hanya karena faktor ingin pendidikan setinggi mungkin. Gue masih ngerasa belum ada apa-apanya untuk menjadi seorang yang gue inginkan, yang gambarannya masih ada di otak gue. Entahlah, gue masih pengen sekolah. Sekolah beserta riset. Efek penelitian skripsi yang gue kerjain sungguh-sungguh lho ini, jadinya suka riset.

Lantas apa yang bikin gue galau?

Keinginan vs Kesempatan.

Keinginan:

Keinginan gue dari awal semester 7 adalah lanjut S2 ke University of Liverpool. Gue pengen ngerasain hidup di Britania Raya. Lalu munculah ketakutan-ketakutan akan kegagalan, dan tiba-tiba ingin ke Tokyo University of Marine Science. Setelah itu, seiring berjalannya waktu tiba-tiba gue ingin kerja. Faktor ekonomi di rumah lah yang bikin gue memutuskan untuk kerja. Tapi, gue masih belum siap. Ilmu gue masih melebar kemana-mana. Gue belum punya keahlian khusus, masih terlalu global. Akhirnya, sidang skripsi pun tiba, dan gue ditawari penguji skripsi gue ke Heinrich-Heine Universität Düsseldorf, Germany.

Germany. Negeri di Eropa.

Gue pernah belajar bahasa Jerman hingga tingkat 2. Tapi sudah lupa sama sekali. Impian untuk lanjut S2 lagi mulai tumbuh. Gue mulai cari-cari info tentang universitas itu, cari tahu professornya juga. Seminggu berjalan, harapan ke Jerman masih ada di hati.

Kesempatan:

Senin pagi, gue datanglah ke seminar hasil penelitian teman gue. Dosen pembimbing skripsinya sangat gue kenal. Beliau adalah dosen pembimbing PKL gue, Bapak Dr. Henry Manik. Karena quota peserta seminar masih sedikit, beliau ajak ngobrol gue yang kebetulan duduknya berdekatan karena gue duduk di paling depan.

“Angga ada rencana lanjut kuliah?”

“Ada pak, kemarin ditawari Pak Hefni untuk lanjut S2 ke Jerman.”

“Pernah dengar program PMDSU? Saya jadi promotornya.”

“Yang benar pak? Walah saya baru tahu lho Pak.”

“Kalau mau daftar langsung saja ke saya. Nanti ke ruangan saya ya.”

Ditawari dosen langsung. Beliau memang akrab dengan gue dari setahun yang lalu, ketika gue menjadi PJ PKL satu angkatan. Mau tidak mau gue banyak koordinasi dengan beliau, dan kebetulan, beliau jadi dosen pembimbing PKL. Selama PKL hingga selesai semester 7, gue menganggap Pak Henry ini sosok yang gue teladani dan gak pernah canggung untuk diajak ngobrol. Kebetulan Pak Henry ini ngebro abis dengan Pak Tri, dosen pembimbing skripsi gue. Alhasil, hubungan gue dengan kedua dosen ini beyond my expectation. Sangat akrab.

Pak Henry menawari berbagai riset yang bisa gue kerjakan selama menempuh program PMDSU ini. Fyi, program PMDSU adalah Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul. Program ini tergolong baru, dengan tujuan menciptakan calon dosen bergelar S3 dalam waktu 4 tahun. Which is, irit setahun. Jadi kalau gue lulus program ini, gue gak punya gelar Master. Langsung aja, Dr. Angga Dwinovantyo, S.Ik (aamiin).

***

Lantas, apa yang gue pilih? Jerman atau PMDSU? Untuk saat ini, pilihan berada di PMDSU. Karena yang paling jelas: dosennya mau promote dan bisa mulai bulan September tahun ini. Kalau ditotal, gue sudah bisa punya gelar doktor di umur 27 tahun. Abis itu diangkat menjadi dosen lagi, cita-cita gue selama ini. Siapa yang tidak mau? Tapi sisi lain, gue “menolak” Jerman. Duh memang pilihan sulit. Baru kali ini gue galau yang berkualitas huhu…

So, yang terbaik saja lah, Ngga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s