Everything Happens for a Reason

Magic is everywhere if you know where to look.

Ada banyak alasan mengapa saat ini kita harus terus bersyukur kepada-Nya. Baik itu musibah, keinginan yang tidak tercapai, hingga nikmat bernafas yang sangat sederhana. Masa lalu, biarlah menjadi cerita. When you finally let go the past, something better comes along. 

Paling tidak, saya mengalaminya di tahun ini. Beberapa keinginan yang benar-benar saya inginkan pupus begitu saja. Ada harapan dari orang-orang sekitar mengenai suatu hal yang sering saya sebut dalam doa, namun kenyataannya tidak terjadi. Bagai dunia ini tidak adil terhadap seorang manusia yang betul-betul mengharap akan terjadinya permohonan itu.

Terkadang, mengikhlaskannya begitu sulit sekalipun hanya dalam tulisan.

Seperti contoh: Ikut Tri-U untuk pergi seminar di China, April lalu.

Accepted

Setelah selesai penelitian selama 3 bulan dari bulan Januari di Lemigas Jakarta, saya segera mengolah data dan menyusun skripsi. Ditengah penyusunan skripsi itu, seorang teman (Mada) memberi tahu saya untuk mencoba mengikuti 22nd Tri-U ke China. Ekspektasi semakin menjadi ketika dosen pembimbing skripsi saya sangat mendukung saya dan Departemen ITK sampai memposting ‘selamat berjuang, Angga‘ di laman facebook. Tentu, saya tidak akan mengecewakan mereka. Persiapan presentasi, mengolah data lebih cepat, setiap hari draft hasil, hingga pada hari H saya sudah siap untuk hampir semuanya.

Ada satu hal yang saya belum siap, saya tidak mengetahui siapa penilai saya.

Presentasi dimulai, penilainya dari 2 orang dosen yang mungkin tidak begitu paham dengan penelitian saya. Saat sesi tanya jawab, saya merasa lancar untuk menjawabnya. Namun, sepertinya beliau kurang mengetahui jenis penelitian yang masih tahap awal yakni skala laboratorium. Disitu saya kewalahan menjawab pertanyaan ‘how to apply this in the real world‘ karena ini benar-benar belum sampai tahap itu. Berkali-kali saya jawab ‘I can’t answer that, this is too early to a laboratory scale research, because ocean is very complex’ terkait penggunaan bakteri yang saya temukan di sedimen laut untuk skala besar. Saya merasa gagal untuk meyakinkan penilai tersebut karena dari raut mukanya beliau menampakkan muka tidak puas. Setelah selesai presentasi, saya berbicara dengan dosen saya kalau sepertinya saya gagal dan beliau berkata ‘tidak apa, yang penting sudah berjuang‘.

2 minggu kemudian, saya dinyatakan tidak lolos di tahap terakhir ini.

Trashed, merasa bersalah, mengecewakan banyak orang. Seminggu setelah pengumuman, saya tak henti menangis dan tidak keluar rumah. Benar-benar memalukan dan memuakkan. Saya kembali ke kampus karena dosen saya menyuruh untuk draft skripsi lagi, dan disitu saya bercerita tentang kegagalan saya. Beliau berkata, ‘masih banyak yang lain, kamu jangan merasa kecewa’. Hal ini juga terjadi saat pengumuman PIMNAS  dan tim ‘kebanggaan‘ Departemen ITK (karena sehari sebelumnya masuk detikcom, dan tempo). Kami tidak lolos PIMNAS di Kendari. Lagi-lagi, dosen saya yang menguatkan saya dan teman-teman karena lagi-lagi mengecewakan. Beliau hanya berpesan ‘tidak perlu kecil hati, masih ada positifnya‘.

FullSizeRender

***

Benar kata dosen saya itu, everything happens for a reason. Kami tidak jadi ke PIMNAS di Kendari bulan Oktober nanti karena pasti akan sulit mengurus administrasi karena 3 dari 4 orang tim ini: saya, Nico, dan Santi sudah lulus kuliah (bahkan saya dan Nico sekarang ini sedang kuliah S2), jadi secara administrasi kami sudah tidak bisa ikut PIMNAS. Positifnya itu, kami jadi bisa fokus untuk publikasi jurnal (saat ini sedang tahap peer review jurnal).

Mengenai program Tri-U yang berlangsung November nanti, jika saya diterima maka saya diharuskan untuk “tidak lulus” dulu sebelum acara selesai. Hal itu berarti saya akan menunda kelulusan saya. Tetapi karena saya tidak lolos Tri-U, saya tidak mikirin persyaratan itu lagi, dan Alhamdulillah saya lulus Juni 2015 kemarin. Selain itu, karena saya sudah lulus, saya bisa mendaftar program PMDSU (Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) dan diterima sebagai penerima beasiswa hingga menjadi Doktor untuk 4 tahun kedepan, bimbingan promotor bapak Henry Munandar Manik, Ph.D. Hal lainnya, saya bisa diwisuda di tahap 1 dan menjadi lulusan terbaik. Dan saya berkesempatan untuk diwisuda bersama seseorang wanita yang… begitulah hihihi. Alhamdulillah, semuanya berjalan atas kuasa Allah SWT. Allah memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Dan keinginan untuk presentasi di seminar Internasional pun kesampaian. Saya mengikuti International Conference on Biosciences (ICoBio) 2015, Agustus 2015 lalu.

ICoBio 2015

Memang tidak jadi ke China, tetapi saya berkesempatan untuk presentasi dihadapan peserta dari Japan, Malaysia, India, Pakistan, Germany, Thailand, dan peneliti-peneliti hebat dari Indonesia.

“Masih ada positifnya”, benar kata Pak Tri.

Sejak saat itu, saya selalu ingat kalau kita harus terus bersyukur, apapun yang terjadi. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan hasilnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s