Keinginan ≠ Kenyataan

Apa yang anda lakukan?

Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dimulai, karena semuanya sudah jelas akhirnya. Tiba-tiba kamu tersadar akan perilaku diri sendiri yang seperti memaksa. Seseorang disana, yang jelas-jelas tidak ingin diperjuangkan. Seseorang yang bahkan tidak ingin membahas orang yang betul-betul berjuang demi dirinya. Seseorang yang sudah muak akan keberadaan dirimu.

Mungkin terlalu naif dan egois jika memaksa berjuang sendirian seperti ini. Seperti ingin mendaki gunung dengan satu kaki, berharap melihat keindahan diujung atas sana. Sendirian, ya, kamu memang selalu sendirian di dunia ini. Anak bodoh yang berharap akan pernah dicintai. Bahkan keluargamu saja membuangmu. Bodoh, memang bodoh.

Kamu bahkan sudah mengetahui perasaan wanita itu, jauh sebelum memaksakan kehendakmu. Kamu memang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mendekatkan hanya membuat wanita itu semakin risih, jijik, bahkan malas untuk sekedar membalas sapaan kangenmu. Usahamu memang tak pernah sia-sia, kamu berhasil untuk memaksakan kehendakmu hingga saat ini. Tapi, sampai kapan? Realistislah, kamu memang tidak pernah dicintai dia.

Mungkin benar, kamu memang harus memaafkan dirimu sendiri. Tak lain karena masih diberikannya waktu oleh sang Pencipta. Umur yang semakin bertambah, fisik yang semakin melemah. Sadarlah itu. Tinggal menunggu, kapan kamu akrab dengan tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s