Suatu Sore di Batu

Sore yang syahdu. Kumandang adzan bersahutan, mengagungkan pencipta semesta. Sore itu, di Alun-alun Kota Batu, saya bergerak menuju masjid untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Terlihat banyak orang berhenti dari aktivitasnya. Kita adalah masyarakat beragama, dimana respek dan tanggungjawab semuanya berbaur dalam kepentingan duniawi dan akhirat. Saya bergegas menuju tangga masjid, sepatu kesayangan dilepas, terlihat lecet dikaki. Wah sakit sekali, ini pasti karena terinjak di bus Surabaya-Malang kemarin. Saya berusaha mengambil obat luka di tas kecil, sambil melihat suasana sekitaran alun-alun. Seorang bapak paruh baya penjual kopi dan teh melihat saya dari kejauhan, memberikan senyumnya. Sapaan khas orang Indonesia, ramah sekali.

Selepas shalat saya menghampiri bapak itu.

Saya: “Kopi hitam satu ya pak.”
Bapak: “Oyiii oyiii (Iya, dalam bahasa Jawa: Iyo, dibalik menjadi Oyi)… Sampeyan dari mana?”
Saya: “Saya dari Bogor pak. Kesini untuk berlibur”
Bapak: “Sendirian aja tha?”

Tersadar saya ingat bahwa di kota yang jauh ini saya memang sendirian. Perbincangan hangat ala anak muda dan seorang bapak mengawali malam pertama saya di kota yang indah ini. Beliau sedari awal Ashar tadi memerhatikan saya. Memerhatikan saya yang duduk sendiri di bangku Alun-alun. Sekitar 3 jam beliau melihat saya terpaku di bangku itu.

Bapak: “Lho sampeyan saya perhatikan diam terus di bangku pojok sana.”
Saya: “Iya pak, lho bapak perhatikan saja to? Hehe…” sahut saya sambil bercanda
Bapak: “Saya tahu, pasti sampeyan lagi ada masalah ya?”
Saya: “…”
Bapak: “Memang cobaan hidup itu datang dan pergi Mas e. Gimana kita menghadapinya…”
Saya: “Saya keingat Almarhumah Ibu, pak”

Suasana saat itu cukup dingin, karena jaket saya yang tipis tidak mampu melindungi tubuh saya dari dinginnya Kota Batu. Perbincangan seketika terhenti disitu, beliau paham betul kondisi hati saya. Sifat kebapakannya membawa saya menjadi lebih nyaman, dan mempersilakan saya untuk menenangkan diri kembali ke bangku kosong dipojok alun-alun.

Suatu keadaan yang sangat berat, ketika rindu semakin candu. Jauh dari rumah memang tidak pernah menarik bagi saya, karena keluarga adalah prioritas tertinggi. Disana pula saya terpukul, ketika bertemu dengan satu keluarga yang terdiri dari ibu, bapak, dan 3 orang anaknya yang lucu-lucu. Perempuan – Laki-laki – Perempuan lagi. Dan saya diminta untuk memotret mereka dengan kamera saku sang bapak.  Keluarga itu, persis dengan keluarga saya.

Saya kangen kebersamaan dengan Mama, Papa, Teteh, dan Adik. Di rumah.

Kembali lagi brainstorming, apa benar ini tujuan saya kemari? Apa benar saya ke Malang memang hanya ingin berlibur; atau ini hanya alasan untuk kabur dari kenyataan? Sejauh ini, memang tersadar bahwa perjalanan kali ini adalah perjalanan penyembuhan hati, hati yang hancur karena melihat kondisi keluarga yang tak kunjung baik. Semua itu karena datangnya “ibu baru”.

Pojok alun-alun Kota Batu itu menjadi saksi, betapa hancur dan runtuhnya hati seorang anak laki-laki yang memang tak mengharapkan adanya orang baru di keluarganya. Karena semestinya, memang kita harus terus bersama.

Namun, saya tidak boleh egois. Itu adalah pilihan bapak.

Life has never been perfect. It probably never will. But I will never lose hope, because I know I always have You to stand by me even if the whole falls apart. Thank you, Allah.

DCIM100GOPROGOPR4098.

Just (fake) smile.

One thought on “Suatu Sore di Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s