Unconditional Love

Jangan kau bilang cinta, bila hanya diucapkan lewat lidah.

Mungkin begitu yang selalu saya ingat tiap kali ingin berkata sayang atau cinta. Tak ada unsur baper, hanya ingin berbagi pengalaman saja. Tulisan ini adalah tulisan pertama saya tahun 2017 ini setelah hiatus selama berbulan-bulan. Terlalu banyak alasan yang akan saya tuliskan, karena alasan selalu ada.  Pengalaman ini saya bagi agar kalian yang merasakan hal yang sama juga tahu apa yang terjadi, dan bagaimana menyikapinya.

Keluarga saya terdiri dari 2 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. Ya, saya adalah anak laki sendiri. Tentu orang tua saya terdiri dari 1 orang ibu dan 1 orang bapak. Pada akhir tahun 2013 lalu, ibu saya dipanggil Allah akibat penyakit yang dideritanya sedari 2008 lalu. 5 tahun. 5 tahun beliau bertahan dari serangan bertubi-tubi penyakit, sebut saja jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan maag.

Tidak ada yang berubah dalam keluarga saya. Semuanya berjalan semestinya. Saya tetap kuliah, adek saya tetap belajar di SMA-nya, kakak saya mengurus suami dan anaknya yang lucu itu di rumahnya di Karawang. Bapak saya? Pensiunan IPB. Karena beliau aktif sekali dan masih merasa sehat, jadilah beliau memegang ngajar di SMK swasta di Bogor, 3 SMK beliau pegang… dengan mata pelajaran yang sangat beliau kuasai: Otomotif.

Padahal, anaknya yang laki-laki tidak tahu cara mengeringkan busi yang terendam air hujan.

Singkat kata, 1 tahun 8 bulan kami hidup sangat damai. Ingatan dan memori yang tak akan terlupa bagi sang anak lanang (laki) adalah ketika diantar ke Sendangbiru, Malang untuk tugas PKL kampusnya. Begitu besar perhatian beliau, sampai saya diajak ke Jember pula, tempat kakek saya dimakamkan. Adik saya pun sangatlah dekat dengan bapaknya. Begitu pun sehari-hari kita selalu mengamati dan memperhatikan bapaknya yang tak lagi ditemani sang ibunda.

Sampai suatu saat, 15 Agustus 2015, 25 hari sebelum anak laki-lakinya di wisuda S1 IPB, bapak memutuskan menikah lagi. Padahal saya sangat semangat ketika bapak tidak tahu kalau saya adalah lulusan terbaik jurusan saya. Saya ingin sekali memberi kejutan, menyenangkan orang tua. Bapak menikah dengan seseorang yang tidak kami kenal, seseorang yang asing, seseorang yang bersikeras untuk tetap tinggal di Pulau bernama Bintan, seseorang yang kami tolak mentah-mentah untuk menjadi ibu tiri kami karena banyak hal. Pesta pernikahan pun terjadi. Pikir saya saat itu, biarlah saya yang menderita, tapi bapak saya harus bahagia. Oke, terserah papa, mau nikah apa nggak.

Time passed by… Kita hidup dalam kediaman, saling acuh, tak peduli. Beberapa saudara ikut-ikutan membenci saya. Kita hidup dalam kemarahan dan perpecahan. Bahkan keputusan saya untuk lanjut kuliah pun diremehkan. Lucu juga ketika ada yang bilang umur segini harus kerja, tahu diri lah sama kondisi keluarga. Hehe… saya buktikan nanti setelah saya wisuda S3, omonganmu itu. Kadang saya berfikir, mengapa jadi begini? Bukankah saya sudah mengalah, cukuplah saya dijelek-jelekkan sebagai anak kurang ajar. Setelah kejadian itu terjadi, tak ada rasa ingin mengenal keluarga disana. Karena keluarga disana ada anak: 1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Usianya? Dibawah adik saya. Tak maulah lagi saya menambah repot urusan yang sudah repot ini.

Saya sempat marah ketika bapak saya sedang sakit di rumah Bogor, diminta untuk berangkat ke tempat ibu tiri itu. Saat sakit, kami merawatnya. Saat senang, bapak pergi kepada sang terkasih. Apa itu yang namanya keadilan? Saya rasa… kami hanya merawat bapak sebagaimana mestinya karena beliau bapak kami, bapak yang kami cintai. Tak lebih, tak kurang. Perlu diklarifikasi, saya tidak akan pernah memanggil dia “Ibu”, karena ibu saya hanya satu, “Ibu Hj. Noni Rustinawati”. Seorang wanita biasa saja, yang menjalani hari sebagai guru SD. Beda dengan istri papa yang seorang lawyer itu, keren bo!

Disini tak perlulah saya menyanjung ibu saya secara berlebihan, tapi tanyalah kepada ribuan anak muridnya yang pernah diajar beliau, bagaimana keseharian almarhumah.

Mungkin masalah waktu, jadi Angga menolaknya. Beberapa bulan setelah menikah, saya dan bapak saya kembali akur. Beberapa teman di kampus banyak memberi masukan kepada saya, orang tuamu tinggal 1, rawatlah selagi bisa. Memang betul, lingkungan sehari-hari menentukan pola pikir. Jadi, berada lah di lingkungan yang baik. Saya perlahan sering mengobrol lagi dengan beliau, komunikasi dengan beliau pun menjadi cair kembali.

15 Desember 2016 – 8 Januari 2017, kami tak pernah bertatap muka. Bapak pergi lama sekali. Karena apa? Anaknya si istri papa itu liburan. Hey pa, anakmu ini masih ada dua di rumah, menunggumu. Kelegaan terjadi ketika adik saya bilang, “papa pulang besok, 9 Januari”.

8 Januari 2017 pukul 20.00 ada telpon dari Pulau Bintan kalau bapak saya masuk ICU, serangan jantung.

Kaget, sedih, panik, dan menangis. Hanya bisa itu. Jarak beratus-ratus kilometer menjadi batas satuan jarak kami. Bagaimana rasanya mengetahui orang tua sakit parah sementara kita di rumah saja? Mungkin kalau jarak Bogor- Jakarta atau Bogor-Bandung, malam itu sudah saya hampiri. Tapi ini, kita terpisah Laut Jawa – Selat Karimata –

Malam itu, semesta mendukung saya. Biar uang beasiswa belum kunjung cair, ada saja bantuan dari banyak pihak. Sebut saja, dosen saya, Pak Henry Manik. Bantuan moril juga saya dapatkan dari Steven, teman seperjuangan saya. Mereka mendukung saya untuk berangkat sajalah menemani Bapak.

9 Januari 2017 pukul 2.30, saya berangkat dari rumah. Hanya bermodalkan uang penelitian yang lagi mampir di ATM, saya bisa berangkat. Uang bisa dicari, orang tua tinggal satu.

4 hari saya berada di rumah sakit. Izin kuliah sewaktu S3 adalah gambling paling besar, pilihannya antara bunuh diri atau dibunuh. Saya tidak mikir lagi, biarlah itu semua. Disana tidur di lantai pun tak apa, hanya satu pikir saya: saya ingin sekali berada di samping bapak, merawatnya, memberi makan, mengontrol kondisi jantungnya, dan banyak sekali merepotkan suster disana. Kalau saya tak pernah diajari ilmu banyak cakap ini oleh salah satu istri dosen saya, maka tak akan bisa seorang Angga berada di ICU selama terus menerus. Pengalaman merawat ibunda sewaktu sakit pun sudah banyak. Singkat kata, saya mengetahui persis kondisi bapak selama di Rumah Sakit. Istri papa? Beliau ada, baik terhadap saya. Memperlakukan sangat baik. Namun, hal itu tak cukup karena kemarin, satu tahun lebih saya dan adik saya hidup dalam keterpurukan. Tidak dendam, no hard feeling. Hal ini memang semestinya bukan jika dia ingin masuk ke kehidupan kita? Apalagi, bapak saya yang selalu menghampiri, padahal sepengetahuan saya, istri itu ngikut suami, bukan suami ngikut istri.

Beberapa kali saya berusaha tersenyum di hadapan bapak. Bantuan moril adalah berada didekat bapak selagi beliau tidak mampu untuk banyak bergerak. Saya hadir disini, karena bapak.

Padahal, saya sedang berobat. Saya terkena penyakit penyempitan pembuluh darah…

…di otak.

Masalah itu tak saya pikirkan, biarlah Allah yang menolong saya. Yang terpenting adalah bapak saya sekarang sudah sehat. Sudah siap kembali pulang ke rumahnya. Tempat semestinya beliau berada, di Bogor.

Pa, kita pulang ya. Tidak perlu kembali lagi kesini. Aa berdoa supaya papa segera disadarkan, cukuplah dibutakan oleh cinta. Anak-anakmu sangat sayang dan rindu sosok bapak yang selama ini kami rindukan.

Mungkin benar istilah “ada mantan istri, tak ada mantan anak dan mantan orang tua”. 

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally…

Di rumah tante Erna,

Tanjungpinang, 12 Januari 2017.
Angga

Advertisements